Rabu, 12 Desember 2012

Gunung Merapi



2Malam Cumbui Pasir Merapi
Bismilahirrahmanirrahim.
Merapi, 23- 26 Desember 2011. Luthfi Mulyadi, Jihad Robbani 
& Khairul Imam

Kamis, 22 Desember 2011.Ya tepat Ulang tahunku yang ke30, aku selalu membuat hadiah khusus untuk diriku. Apalagi kalau bukan naik gunung. Mantap.tidak semua orang dapat kesempatan untuk menikmati ketinggian 2000mdpl bahkan lebih. Terlebih di umur 30 dan telah memiliki istri dan anak. 

Alhamdulillah Robbil ‘Alamin, kesempatan itu tinggal menunggu hitungan jam. Terbayang sudah keindahan alam pegunungan yang akan aku rasakan. Berlembar-lembar kertas printout info tentang Merapi telah kubaca. Berjam-jam aku browsing khusus Merapi. Ditambah beberapa wawancara kepada orang-orang yang memang telah berhasil mencapai puncaknya. Setelah segala administrasi sekolah telah aku selesaikan.Esok hari waktunya.

Jum’at 23 Desember 2011.Alhamdulillah. Ya, ini harinya. Kompas, tali, dan tenda baruku pastinya akan kubawa untuk dampingiku menuju Merapi. Setelah jemput saudara setiaku Jihad di stasiun Kalibata, segera kutancap gasku kembali menuju MTs.N1. Khairul Imam dan para fansnya telah menunggu di sana. 

Tak lama setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, langsung kita menuju rumah Ibuku tersayang. TPA Al-Bayyinah yang kubanggakan. Jam menunjukkan pukul 11.00. setelah pamit segera kami berjalan kaki menuju Masjid Raihanul Hamim Sawah Guriang Mampang. Aku tidak boleh tertinggal Bus.Tiga tiket Langsung Jaya telah terbeli.@Rp110.000,- akan  antarkan kita ke Boyolali.
Siang itu salat Jum’at bener-benar nikmat. Walaupun panas terik di luar sini, tak terasa karena gembira. Tak lama setelah salat Jum’at usai. Terlihat 5fans Imam menunggu di luar pagar Masjid. MasyaAllah. Alangkah setianya mereka menunggu Imam keluar dari Masjid. Rencananya akan ada sesi “lambai-lambai tangan” ketika bus meninggalkan Mampang. 
Hehehehe..prikitiw. Kaya di film tahun 80-an aja, dengan soundtracknya “Pelabuhan Teluk Bayur”. Ayo, Positif,positif,positif. Diriku mengingatkan. Doakan saja Ia sukses beserta fans-fansnya nanti. Kita harus bisa Unlearn, meminjam istilah pak Arief. Masa mereka berbeda dengan masa kita.Maca ciiiiiiiii?,hehehehe.
                Bus sampai. Segera kita simpan carier di bagasi lalu naik ke atas pastikan kita dapat kursi yang nyaman. Alhamdulillah. Bus Langsung Jaya memang cukup tua dibanding armada-armada bus lain yang menuju Solo. Mungkin umurnya sama dengan umurku.tapi kuyakin mereka merawatnya dengan baik. 

Pukul 14.00, Bismillahirrahmanirrahim, buspun berangkat. Melaju meninggalkan transit mampang.meninggalkan para fans Imam. Terlihat dari balik jendela para fans terus melambai tangan,meskipun Imam tak terlihat jelas.

Cakung – Karawang – Palimanan – Cirebon terlampaui. Malam pun datang. Tol Kanci – Pemalang – Weleri kita lalui di tengah malam sekitar pukul 24.00. Purwerejo Semarang, Salatiga Boyolali. Alhamdulillah. Sabtu 24 Desember, 04.00-Terminal Boyolali – Arif Trans-Cepogo-Selo

  Pukul 04.00 kita tiba di Boyolali. Banyak yang menawarkan jasa carter mobil antarkan kita lansung ke Selo. Dengan tenang aku tolak satu persatu tawaran itu. 


“Kita mau salat Subuh dulu Mas”.

 Jawabku. Padahal aku juga masih bingung harus naik apa ke Selo nanti. Setelah bertanya-tanya ke beberapa orang, khususnya tukang susu jahe. Kitapun harus naik Arif Trans menuju Pasar Cepogo. Dari sana baru kita kita sambung lagi menuju Selo.
Boyolali di pagi hari luar biasa cantiknya. Di tengah hilir mudik orang yang sedang beraktifitas , di arah timur terlihat pegunungan yang salah satunya adalah Gunung Lawu. Di arah barat jelas terlihat Merbabu yang gagah dan di sebelah kiri lancipnya puncak merapi. Subhanallah indahnya. Dari sini kita terus naik, lewati lembah-lembah. Bus ¾ itupun  semakin menuju ke atas bukit. Lama-ke lamaan terus ia mendaki, sampailah di satu titik view yang sempurna.
 Hamparan lautan awan Gunung Lawu. Semakin terlihat cantik dengan sinar matahari pagi kuning keemasan. Tak kalah puncak pasir Merapi pun seakan muncul dari sebelah kiri, mengatakan 
“ayo cepat cumbui pasirku”.
Takkan pernah berakhir pujiku  Subhanallah Walhamdulillah, Wala Ilaha Illallah Wallahu Akbar, Wala Haula Wala Quwwata Illa Billahil ‘Aliyyil ‘Azhim. Terbayang ratusan nyawa direnggut oleh awan panas dan lahar dingin Merapi. Ratusan rumah terkubur disana. Ribuan pohon hangus dibakarnya. Inilah yang sangat menantangku untuk jumpa sang perkasa ciptaan Allah swt, Merapi.
Bus dari Boyolali antarku sampai Pasar Cepogo. Dari sini aku dkk menuju pertigaan menuju Selo dengan Bus ukuran yang sama. Di Cepogo aku sempat bertanya kepada salah seorang perempuan untuk memperkaya informasiku. Tak salah ia memang pernah sampai di puncak Merapi. “Puncaknya terjal mas, sulit sekali untuk sampai ke sana”.”Oh, terima kasih Mbak”. Artinya, mental perlu lebih dikuatkan.Bismillahi Allahu Akbar.
Kebetulan mbak tadi turun di desa yang sama.setelah cukup lama bertanya, kitapun berpisah. Aku segera daftar di pos pendakian, dan menitip beberapa barang yang tidak perlu dibawa ke atas. Pendakianpun dimulai.45 menit kita habiskan  dari pos daftar menuju New Selo. MasyaAllah jalan aspal yang sangat terjal ini, banyak menguras energi. Di sini kita masih bisa menemui ladang jagung petani. Disini pula kita membeli nasi , telur dan air untuk bekal perjalanan.

New Selo 10.15 – jam 11.30 sampai kita di Patok (1). Hujan mulai mengguyur, jika cerah puncak merapi dapat terlihat dari sini.,Patok( 2) 12.30,  hujan semakin deras. Rain coat tak cukup halau hujan yang sangat deras seperti ini. Apalagi bukan raincoat yang bagus yang kita pakai. 

Dingin semakin menyergap. Langkah lunglai semakin kita rasakan.di tengah dinginnya hujan dataran tinggi pegunungan. Energi kita nyaris habis di Watu Gajah 13.00. Buang ego, kita harus  istirahat makan nasi – hujan deras menjadikan nasi telur kering kita menjadi berkuah.
 Bismillahirrahmanirrahim Allahumma Bariklana Fima Rozaqtana Waqina ‘Adzabannar. Ya Allah sampaikan kami ke Bubrah Ya Allah. Semua permohonan terbaik kita minta pada saat itu. Kaki-kaki  kram membuat kami semakin  down.

Takbir dan salawat terus iringi perjuangan kami menuju  Pasar Bubrah. 14.00. sampailah kami disana. Hujan angin dingin menusuk tulang memaksa kita bergerak cepat dirikan tenda. Memang belum ada koordinasi yang baik antara kita. Maklum anggota baru yang egonya masih tinggi. 
Aku tidak bangga dengan hasil kerjaku yang cepat dirikan tenda sendirian sampai tuntas safety sempurna. Idealnya kita bekerja sama. Tapi prioritasku amankan 2orang yang kubawa sampai sejauh ini. Jemur pakaian – istirahat – 17.00, kita terbangun karena cuaca cerah di luar sana. Tepatlah keputusan kita untuk segera ambil gambar pemandangan.Foto-foto. Karena sore itu adalah cuaca cerah terakhir di Bubrah. 
Menjelang malam yg cukup mencemaskan . Mau tidak mau kita harus akui. Kita memang sedang berada di Pasar Bubrah. Pasar setan gunung Merapi. Awalnya hanya tenda kita yang berdiri  di sini. Seiring waktu 5tenda berdiri temani kita disini.–tengah malam, tak ku dengar suara gamelan seperti banyak diceritakan orang. Alhamdulillah, Malam ini berawan, sedikit hujan. Sebelum kembali tidur akupun berdoa.”YA Allah mudahkanku sampai ke puncak merapi”

Minggu, 25 Desember.05.30, alarm bangunkanku dari lelapnya tidur. Setelah salat subuh, kitapun bersiap summit attack. Pagi berkabut.remang-remang puncak.Harus diakui, ini adalah kondisi tidak ideal untuk summit attack.10 detik dapat sinar matahari. 06.30, masih berkabut disertai embun.

Keluar dari tenda kita mengarah ke timur, seterusnya ke tenggara jumpai pasir Merapi. 25 menit naik turun cumbui pasir Merapi. Pikirku sekarang kita mengarah ke puncak merapi yang berada di barat daya. Climbing gila tebing batu-batu vulkanik belasan meter tinggi menjulang. Tak lama berselang, semua terlihat putih berkabut. Jarak pandang 5meter dan semakin pendek dari itu. Puncak Merapi pastinya tidak terlihat. Tim meraba-raba, menerka nerka menuju puncak tanpa kompas.

 Pukul 07.00, hujan ringan angin kencang. Kitapun mencoba bertahan di atas batu vulkanik tanpa pegangan apapun. Merangkak. Ya kita merangkak untuk sampai di suatu titik aman. Jika tidak kerikil-kerikil pasir itu akan segera jatuh karena tak mampu menopang berat tubuh kita. Di titik ini jika sampai terpeleset tamatlah riwayatnya. 
Di bawah titik ini belasan meter ke bawah adalah batu-batu cadas merapi yang siap pecahkan kepala dan remukkan tulang siapapun yang jatuh di atasnya. Siapapun. Waktu itu hanya ada kata ya, untuk berjuang mencari tempat aman. Jika kuingat sekarang apa yang telah terjadi pada saat itu, aku akan meminta maaf kepada istri dan anakku jika sampai aku pulang tinggal nama.


 Semua berwarna putih karena tertutup kabut. Akupun mencoba membuat lubang pijakan kaki dengan menggali kerikil pasir dengan batu rapuh. Batu-batu  bekas pijakan yg jatuh jauh lebih besar dibanding di semeru. 
Pasir kasar merapi dan kerikil tajam buat kita sangat tidak nyaman bergelut dengannya.07.15 aku putuskan untuk turun lewat track lain yg lebih aman. Tidak lagi turun lewati  batu-batu cadas  besar vulkanik.Cadas. Aku hanya bisa mengira-ngira bahwa sekitar 100meter lagi puncak. Dan bye2 puncak merapi. Semoga di lain kesempatan kita dapat bersua kembali.

Keputusan turun belum menjamin kita aman dari tersesat. Area full kabut ini pastikan kita tersesat. Tim Terlalu mengarah barat laut. Sekarang kita di sebelah kiri bawah Lewati batu-batu besar vulkanik. Kitapun kehilangan track awal. Full kabut. Bubrah tak terlihat sama sekali. Kita hanya bisa menerka-nerka. Menuju bubrah. 
Kitapun mulai berpikir. Kita telah naik selama 1jam, dan turun 30menit membuat kita tersasar. Pastinya karena di awali menghindar track batu-batu besar cadas yang mengerikan. Dan kini kondisinya tidak kalah mengerikan. Kitapun mulai berteriak minta tolong. Tapi siapa yang kemudian hendak menolong di tengah kabut yang menggila ini. Jika ada, pastilah mereka akan menolong jika kabut telah pergi. 
Sama saja bunuh diri menolong atau mencari korban di tengah kabut dan medan yang sangat terjal. Dalam pada itu kita masih bisa menikmati ski pasir merapi. Ku  yakin 50 meter lagi bubrah, seperti video di youtube yang pernah kulihat. Celaka, salahlah perkiraanku. Ternyata tim menuju punggungan barat laut Merapi. Nyaris menuju jalur Kinahrejo.

Kita mulai temukan cantigi dan tanaman lumut. Karena itu kita pastikan telah lebih rendah dari Bubrah yang full dengan batu-batu vulkanis. Ya, kita tersasar di jalur air menuju lembah tak bertuan. Kitapun kembali mendaki jalur air /parit alami dengan tinggi rata-rata 7meter. 
Dari pungungan ke punggungan pasir lainnya. Menuju timur.Kembali mencoba bertahan dan terus bergerak menuju timur. Ada keraguan apakah kita berada di punggungan timur atau barat merapi. Full kabut dan hujan deras. Dingin semakin menyiksa. Kondisi ini lagi-lagi  membuat kita hampir menyerah.
Takbir, salawat.istighfar tak hentinya kumandangkan. Lamat-lamat terdengar suara orang yang menjawab ketika kita tanya
 “Bubrah dimana?”
Suara dari bawah itu ternyata dari patok 2n dan 1 bukan bubrah. Antara lokasi ini dan  patok 2 dan 1 menganga jurang dengan kedalaman lebih dari 500meteran.Ternyata Suara dari atas itulah  yg dari bubrah. 
3jam tersesat, kitapun kembali mendaki menuju bubrah. Calsium1 produk andalan Tiens kuatkan kita yang nyaris mati karena hipotermia .Kitapun segera sujud syukur setelah sampai kembali ke camp bubrah. Alhamdulillah Robbil ‘Alamin.

Jam menunjukkan pukul 12.00. Masih terbayang sangat jelas peristiwa mengerikan 3jam yang lalu. Full kabut, batu-batu cadas, salah arah, tersesat, angin kencang dan hujan,hipotermia yang jelas-jelas mengancam nyawa siapapun yang menghadapinya. 
Tak henti-hentinya kitapun memanjatkan syukur kepada Allah swt yang telah menjaga kita dengan penjagaan yang sempurna, karena Ia Maha Pemberi Keselamatan. 
“Kita harus banyak melakukan kegiatan, hujan badai sepertinya akan berlangsung lama di luar sana”
aku pun menguatkan mental teman-teman untuk terus berjuang melawan bekunya Bubrah di dalam tenda di tengah badai.

Kehabisan pakaian kering membuat daftar panjang kesengsaraan kita. Sebelum melakukan Summit Attack semua pakaian yang basah kujemur. Dan sekarang kita kehabisan pakaian  kering. 
“Kita bisa, ya kita pasti bisa melewati ssssemuanya”
 untuk kesekian kalinya dalam keadaan kedinginan yang sangat,kukuatkan lagi mental teman-teman yang hampir hampir mati kedinginan. Kitapun mulai membakar parafin di dalam tenda yang seharusnya tidak boleh kita lakukan. Habis bagaimana lagi. Kita tidak punya pilihan lagi. Jika sampai tenda terbakar tamatlah riwayat kita.
 Hampir tiap 2jam kita bakar paraffin. Untung aku membeli cukup paraffin. Dan untuk kesekian kalinya setelah kutaha-tahan, untuk tidak membuka cdku yang basah. Akupun menyerah. Akupun membukanya setelah  yang lain juga membuka. 

Alhamdulillah terasa lebih nyaman tanpa cd  basah yang melekat langsung. Dan sekarang kitapun menutupi aurat kita dengan Koran sambil keringkan pakaian basah dengan paraffin.

Ya, hanya kita yg bertahan di tengah-tengah badai di Bubrah. Tenda-tenda yang tadi pagi masih berdiri siang hari itu telah dibereskan dan penghuninya memutuskan untuk turun.
Hari menjelang sore ditandai dengan semakin gelapnya suasana. Tak sempat aku tuk kembali menyalakan lampu badai karena cemas di malam ke dua di bubrah.full angin dan hujan.jas hujan yg terbang. Sepatuku selanjutnya akan pensiun di new selo.

Berbusana Koran. No more drycloths. Tak mungkin turun malam atau sore ini. Terlalu riskan. Ingat anak is3 kuatkanku bertahan hidup. Lihat penutup hidung hadiah ulang tahun dari is3 dan anakku kuatkanku melawan dinginnya bubrah. Besok kita harus bergerak cepat sebelum badai datang
       Senin 26 Desember 2011.Alhamdulillah, tidak dengar apa2 tadi malam. Penunggunya juga mungkin malas keluar karena badai. Its not over yet.hehehe.mantap packing1jam. Yes, we r ready.08.30 lets go home. Down mount. Masih Full kabut badai hujan. 

Mantaaaaaaaaaaaap!.Sumpah serasa di  Everest or Puncak Jaya Papua ,hehehe (kaya dah pernah ke sana aja) . Tiarap di batu nisan in memoriam. Badai angin kea rah timur.Batu nisan ke Watu gajah tiarap jika angin suangat besar cz tidak ada batu /pohon tuk pegangan..Trus berjuang capai watu gajah. 

Saling mengikat pinggang dengan tali pramuka. 09.00 sampai patok 2. Relatif aman banyak batu besar cantigi dan edelweiss. Alhamdulillah. Di ketinggian ini angin tidak terlalu kencang. 09.15 cerah. Nikmati hangatnya sinar mentari setelah 24 jam tidak bertemu.
Insyaallah To be continued
                                                 Pancoran, Senin 06 Februari 2012
                                                   Luthfi Mulyadi

Rabu, 05 Desember 2012

pendahuluan tasawuf



TASAWUF SEBAGAI JALAN KEROHANIAN ISLAM




Kata Pengantar


Menyimpulkan sekaligus melengkapi topik inti terakhir dari mata kuliah. Aliran kepercayaan , penulis berusaha untuk lebih memahami tujuan dari diajarkannya mata kuliah ini .Penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Dosen yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk memperbaiki kekurangan penulis dalam evaluasi awal, pertengahan dan akhir semester. Mudah-mudahan penulis dapat memahami perkembangan ke depan beberapa panguyuban aliran-aliran kepercayaan dan memberikan manfaat bagi program-program dakwah di kemudian hari,. amien.



Penulis

Luthfi Mulyadi






Pendahuluan


Telah kita ketahui bersama pada pengantar mata kuliah aliran kepercayaan, bahwa salah satu faktor dari beberapa faktor timbulnya  munculnya aliran kepercayaan adalah kurangnya corong Islam pada waktu itu dalam mengekspresikan  (menyoroti ) aspek kerohanian (batiniah) dan ( intuisi ) pemeluknya.
Penyebaran Islam melalui corong fiqih yang hanya banyak berbicara mengenai halal dan haram, putih dan hitam berdampak pada ketidak puasan masyarakat bawah yang sebelumnya sangat kental dengan asketisme dan mistisisme ajaran Hindu maupun Budha.
Padahal Islam pertama kali menyebar dikalangan bawah (kasta Sudra) melalui corong Tasawwuf (mistisisme islam). Dan masyarakat pada waktu itu pula meresponnya dengan baik dan akomodatif. Disinilah kita perlu memenej ( manage) ulang agenda dakwah kita agar dapat lebih efektif dan efisien khususnya dalam mencermati sosio kultural mayoritas masyarakat Indonesia yang masih menganut berbagai aliran kepercayaan. Bagaimana islam sebagai agama yang kita yakini kesempurnaannya dapat mengayomi dan memuaskan hati para pemeluknya dengan mahabbatullah (kedekatannya dengan Sang Pencipta alam semesta) dan hal-hal lain khususnya yang berkaitan dengan aspek tersebut (batiniah)
Insya Allah penulis akan sedikit mengungkit Tasawuf sebagai jalan kerohanian dalam Islam yang secara valid diakui oleh al-Quran dan al-Sunnah.

TASAWUF SEBAGAI JALAN KEROHANIAN DALAM ISLAM


Segolongan umat islam yang belum puas dengan pendekatan diri kepada Allah melalui ibadah, salat, puasa dan haji diberikan jalan untuk lebih mendekatkan diri mereka kepada Allah Swt. Melalui  al-Tasawwuf atau Sufisme. Istilah ini khusus dipakai untuk menggambarkan mistisisme dalam islam. Tujuan dari mistisisme baik yang di dalam maupun di luar Islam ialah memperoleh hubungan langsung dan disadari dengan Tuhan, sehingga disadari benar bahwa seseorang berada di hadirat Tuhan. Intisarinya adalah kesadaran akan adanya komunikasi dan dialog antara roh manusia dengan Tuhan dengan mengasingkan diri dan berkontemplasi. Kesadaran ini selanjutnya mengambil bentuk rasa dekat sekali dengan Tuhan dalam arti bersatu dengan Tuhan yang dalam istilah arab disebut al-Ittihad dan istilah lainnya yaitu Mystical Union.[1]
Paham bahwa Tuhan dekat dengan manusia yang merupakan ajaran dasar dalam Tasawwuf terdapat dalam al-Quran dan al-Hadis.


          *[2]
Jika hamba-hambaku bertanya bertanya padamu tentang diri-Ku, Aku adalah dekat. Aku mengabulkan seruan orang yang memanggil jika ia memanggil-Ku. Kata (da’a) yang terdapat dalam ayat ini oleh sufi diartikan bukan berdoa dalam arti yang lazim dipakai. Kata itu bagi mereka mengandung arti berseru, memanggil  Tuhan, dan Tuhan melihatkan diri-Nya kepada hamba-Nya. Ayat lain juga mengatakan  :

          *[3]
Timur dan barat kepunyaan Allah, maka kemana saja kamu berpaling di situ wajah Tuhan(Allah). Bagi kaum sufi ayat ini mengandung arti bahwa dimana saja Tuhan dapat dijumpai.[4]
Pada perkembangannya Tasawwuf yang jauh sebelumnya kental dengan kehidupan kesenyapan (quietism), pada kepasrahan yang utuh terhadap kehendak Ilahi di abad ke-8 M utamanya sangat dipengaruhi oleh rasa takut berbuat dosa yang akhirnya justru kemudian melahirkan motif yang sebaliknya. Misalnya saja sikap yang ditampakkan oleh seorang sufi wanita terkemuka Rabiah yang merupakan contoh menonjoldari sikap pengekangan diri.[5]
Sejauh itu memang tidak tampak adanya perbedaan yang mendasar antara sufi dengan pengikut Muhammad yang bersemangat (salaf), kecuali bahwa para sufi amat berpegang erat (menjadikan sebagian doktrin) terhadap sebagian ayat-ayat al-Quran. Bahkan kemudian terhadap sebagian ayat-ayat al-Quran kemudian mengembangkannya, sehingga sebagian ummat Islam memandang hal tersebut sebagai suatu yang amat penting. Perlu diperjelas bahwa semangat pertapa (asketis) tersebut sangat diwarnai oleh cita Nasrani, dan amat berbeda dengan keaktifan dan semangat pecinta kenyamanan dari Islam. Dalam beberapa ucapan Rasulullah yang terkenal, dijelaskan tentang keutamaan kesederhanaan hidup sebagaimana halnya para pertapa, dan juga ajakan agar bersiaga untuk memerangi serangan orang-orang kafir.[6]
Pada awal abad ketiga Hijriah, atau abad kesembilan masehi, sufisme bukan lagi berhenti pada menjauhi kenikmatan duniawi, dan berbangga terhadap kebersahajaan hidup. Mereka memandang asketisme sebagai tahap permulaan dari perjalanan panjang yang merupakan latihan awal untuk mencapai kehidupan rohaniah yang lebih besar, melebihi batasan asketisme semata.[7]
Terlepas dari kemungkinan adanya pengaruh dari luar Islam, ayat-ayat dan hadis-hadis seperti disebut di atas dapat membawa pada timbulnya aliran sufi dalam Islam tanpa pengaruh dari luar.[8]
Telah sedikit diuraikan di atas perkembangan dari Tasawwuf Islam, diketahui bahwa mistisisme termasuk Tasawwuf Islam (Sufisme) erat hubungannya dengan keadaan menjauhi hidup duniawi dan kesenangan materil. Hal ini dalam istilah Tasawwuf disebut zuhud (ascetism). Mempunyai sifat zuhud merupsksn lsngksh pertama dalam usaha mendekati Tuhan. Orang yang mempunyai ini disebut Zahid (ascetis). Setelah itu barulah orang meningkat menjadi sufi (mystic).[9]
Tujuan seorang sufi ialah berada sedekat mungkin dengan Tuhan  sehingga tercapai persatuan. Jalan untuk mencapai tujuan itu panjang dan berisi stasion-stasion yang disebut dalam bahasa arab (al-Maqamat). Buku-buku Tasawwuf tidak selamanya memberikan angka dan susunan yang sama tentang stasion-stasion itu. Yang biasa disebut adalah, tobat, zuhud,sabar, tawakkal, dan rida.[10]
Langkah pertama yang harus dilakukan ialah tobat, tobat dari segala dosa besar dan kecil. Selanjutnya menjauhi segala perbuatan yang kurang baik dan tidak sopan; dalam istilah sufi tobat dari segala yang makruh dan syubhat. Tobat itu harus merupakan tobat yang sebenar-benarnya. Sehingga calon sufi itu benar-benar suci dari dosa dan perbuatan-perbuatan tidak baik dan tidak sopan. Tuhan Yang Maha Suci tidak dapat didekati kecuali oleh orang yang suci.[11]
Seorang sufi harus senantiasa dalam keadaan rida, tidak marah dan tidak benci, tetapi senantiasa dalam keadaan suka dan senang. Segala perasaan benci dikeluarkan dari hati sehingga yang tinggal di dalamnya hanyalah perasaan senang dan gembira. Merasa senang menerima malapetaka sebagaimana merasa senang ketika menerima nikmat : bahkan  dalam hati bergelora perasaan cinta di waktu turunnya malapetaka. Orang sufi tidak meminta supaya dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga.
Bagi para sufi yang bercorak tarekat yang dikembangkan oleh oleh para ulama Sunni dalam tahapan ini mereka memprogramkan latihan-latihan jangka waktu tertentu, biasanya disebut suluk. Didalam suluk ada orang yang memilih jalan Ibadah, jalan Riyadhah, latihan penderitaan, latihan memperbanyak memberi pertolongan, latihan membuang kemewahan dan sebagainya. Dalam memilih jenis suluk ini bagi seorang murid lebih banyak ditentukan oleh guru tarekat itu sendiri, sesuai dengan kondisi murid itu.[12]
Selanjutnya seorang sufi tiba di stasion cinta kepada Tuhan. Hatinya kosong dari segala-galanya, kecuali dari yang dikasihi yaitu Tuhan.[13] Dalam Tasawwuf Dzikrullah menempati posisi yang sangat penting. Dzikrullah (ingatan atau pujian kepada Allah) adalah suatu nama dari nabi, dan bahwa menurut al-Quran pujian itu lebih bernilai ketimbang salat. Dalam konteks ditegaskan bahwa penyebutan asma Allah, baik disertai pengalaman lainnya atau tidak, merupakan suatu yang paling positif di dunia karena ia membangkitkan getaran paling kuat ke arah kalbu. Nabi bersabda : “ Segala sesuatu mempunyai pemoles untuk menghilangkan  noda dan kalbu adalah tasbih kepada Allah.[14]
Dapat disebut pula meskipun pujian dengan dengan nama teragung Allah merupakan preseden atas seluruh amalan Tasawwuf. Istilah Dzikrullah juga diperluas ke ritus-ritus lainnya terutama sekali kepada pembacaan atau audisi (gladian) tentang al-Quran seperti  telah kita lihat , merupakan suatu substansi dengan Tuhan. Dalam kaitannya pembangkitan getaran dan tentang bagian pasal dari yang lahiriah kepada yang batiniah. Adalah relevan mengutip apa yang dinyatakan oleh kitab wahyu itu tentang dirinya sendiri yang menunjukkan kekuatan ayat-ayat nya sendiri. Seperti contoh” Merinding kulit-kulit mereka yang takut kepada Allah,  Kemudian menjadi  tenanglah kulit dan hati mereka tatkala mengingat Allah”. Disini para sufi menemukan semua otoritas yang mereka butuhkan untuk memanfaatkan gerakan lahiriah, misalnya : gerakan tubuh dalam dalam tarian sakral, sebagai suatu cara pemusatan batiniah.[15]
Hal lain yang penting diketahui oleh seorang sufi bahwa al-Mahabbah senantiasa didampingi oleh al-Ma’rifah, keduanya selalu disebut bersama. Keduanya menggambarkan hubungan rapat yang ada antara sufi dan Tuhan. Yang pertama menggambarkan rasa cinta, dan yang kedua menggambarkan keadaan mengetahui Tuhan dengan hati sanubari. Al-Ma’rifah tidak sama dengan al-I’lm. Al-Ma’rifah diperoleh dengan hati nurani , sedangkan al-I’lm diperoleh dengan akal. Untuk memperoleh al-Ma’rifah  (sebagai rahmat Tuhan) hati seorang sufi harus dibuka oleh Tuhan dan tabir yang ada antara sufi dan Tuhan harus dihilangkan terlebih dahulu. Dalam al-Ma’rifah sufi telah berhadap-hadapan dengan Tuhan, dengan kata lain sufi telah melihat Tuhan dengan hati nuraninya yang suci.
Untuk berpindah dari tingkat berhadap-hadapan dengan Tuhan ketingkat  bersatu dengan-Nya diperlukan satu langkah saja. Sebelum dapat mencapai tingkat al-Ittihad sufi harus terlebih dahulu mencapai Fana’. Al-Fana’ senantiasa diikuti oleh al-Baqa’. Al-Fana’ adalah penghancuran diri, sedangkan al-Baqa’ merupakan kelanjutan wujud dalam diri Tuhan. Disitu pulalah tercapainya al-Ittihad.
Dengan tercapainya al-Fana’  dan al-Baqa’ , sampailah kepada al-Ittihad. Dalam tingkatan ini seorang sufi merasa dirinya telah bersatu dengan Tuhan. Yang mencintai dan yang dicintai telah menjadi satu. Identitas yang mencintai telah hilang , identitas telah menjadi satu. Karena al-Fana’ seorang sufi tidak mempunyai kesadaran lagi dan berbicara dengan nama Tuhan. Didalam al-Ittihad yang disadari hanya satu wujud sungguhpun sebenarnya ada dua wujud. Yang disadari hanyalah wujud Tuhan. Ketika sampai di ambang pintu al-Ittihad keluarlah dari mulut sufi ucapan-ucapan yang ganjil yang dalam istilah Tasawwuf disebut “Syatahat” (                    ), Theopathical Stammerings.

Demikianlah ringkasan tingkatan-tingkatan yang harus dilalui seorang sufi dalam menempuh perjalanan menuju Tuhannya. Namun dalam kasus lain masih perlu bagi kita untuk mengkritisi dan menyoroti aliran-aliran Tasawwuf yang sangat beragam , dikhawatirkan ada aliran yang bersebrangan dengan semangat al-Quran dan al-Sunnah. Sangat perlu kita perhatikan dampaknya bagi masyarakat awam jangan sampai mereka terjebak di dalam ketersesatan dan kemusyrikan sungguhpun dengan niat yang murni menemukan Tuhannya. Oleh karena itu agar  niat yang suci tidak sia-sia bahkan menjerumuskan. Semua orang khususnya yang ingin menjadi seorang sufi  untuk hendaknya mengikuti prosedur yang benar dan valid.

Penutup


Penulis dapat menyimpulkan dari beberapa pemaparan tadi bahwa:
1.   Islam melegitimasi Tasawwuf sebagai jalan kerohanian Umat Islam melalui  al-Quran dan al-Hadis
2.   Prilaku hidup sederhana, uzlah, qana’ah, sabar , suluk, zuhud, sopan santun, menjaga harga diri yang biasa dilakukan seorang sufi berupa riyadhah telah dicontohkan seorang sufi ideal pertama Rasulullah Saw, sebagai suri teladan kita.
3.   Islam memiliki Trade Mark tersendiri dalam aspek mistisisme yaitu menyeimbangkan antara aspek lahiriah dan batiniah melalui Tasawwuf ( Tasawwuf adalah Trade Mark Islam)
4.   Tasawwuf/aliran kepercayaan apapun yang tidak berdasar pada al-Quran apalagi bersebrangan secara akidah maupun ibadah (dalam tuntunan prakteknya) tidak diterima validitasnya (keabsahannya) bagi muslim sejati.

Demikian tugas makalah ini penulis selesaikan, mudah-mudahan bermanfaat bagi penulis sendiri dalam melatih penulisan karya ilamiah lainnya.






Referensi


-Lings Martin, “What Is Sufism”, Membedah Tasawwuf, Jakarta, CV. Pedoman Ilmu Jaya, 1987, Cet. I 1987
-Nasution Harun, “ Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspek”, Jakarta, UI. Press, 1986, Cet. VI, 1986
-Nicholson Reynold A, “Tasawwuf Menguak Cinta Ilahiah”, Jakarta, CV. Rajawali, 1987, Cet. I, 1987
-Redaksi Team Sufi, (Majalah) SUFI, Jakarta, 11 Maret 2001, Edisi ke-10





















[1] Harun Nasution,Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya, (Jakarta: UI Press, 1986), Cet. VI, 1986, h. 71.
[2] Al-Baqarah : 186
[3] Al-Baqarah : 115
[4] Ibid. h. 73.
[5] Reynold A. Nicholson, Tasawwuf Menguak Cinta Ialhiah, (Jakarta: CV. Rajawali, 1987), Cet. I 1987, h. 4.
[6] Ibid., h. 5

[7] Ibid., h. 6.
[8] Harun Nasution, Islam Ditinjaui Dari berbagai Aspeknya, (Jakarta: UI Press, 1986), Cet. VI, 1986, h. 74
[9] Ibid., h. 74
[10] Ibid., h. 78
[11] Ibid., h.79
[12] Team Redaksi Majalah Sufi,Edisi 10/Th.11/Maret 2001/5 Dzulhijjah 1421 H.-6 Muharram 1422 H. h. 48
[13] Op.cit., h. 80
[14] Dr. Martin Lings(Abu Bakar Sirajuddin), “ What is Sufism?” Membedah Tasawwuf, (Jakarta: CV. Pedoman Ilmu Jaya, 1987), Cet. I, 1987, h. 53
[15] Ibid., h. 54