Sabtu, 24 November 2012

Sexy that i mean


‘Iffah

            Bukan hal yang tabu bagiku berbicara tentang cinta. Aku seorang alumnus dari sebuah  pesantren yang bisa dibilang cukup ketat dengan banyak peraturan, walaupun demikian aku tidak tabu untuk membicarakannya..Ya apalagi kalau bukan hubungan antara santri putra dan santri putri. Bayangkan saja, jika seorang santri putra ketahuan mempunyai relasi dengan santri putri maka keduanya akan dijemur dihadapan ratusan santri lainnya. siapa sih yang tidak  akan  malu?.
            Berbeda sekali dengan pesantrenku kini yang bisa dibilang tidak ketat.. Sempat canggung aku untuk beradaptasi dengan kondisi seperti ini. Tapi lama kelamaan akupun semakin menikmatinya. Bahkan suatu ketika aku sempat mengungkapkan perasaanku kepada seseorang santriwati mojang priayangan. Gembira hatiku walaupun baru setahap kulewati, dengan pengakuan bahwa aku suka padanya.
            “Bagaimana jawabannya Rin?”. Aku Tanya beberapa kali kepada Rini. Ia hanya berdiam diri sambil menundukkan kepalanya, tidak menatapku. Ia memang anak perempuan yang iffah. Jarang sekali ia terlihat bercakap-cakap dengan kaum adam. Itulah sebabnya aku tertarik kepadanya. Selain cantik dan pintar ia pun tidak sembrono seperti anak-anak perempuan seumurnya yang umumnya centil demi mendapatkan perhatian dari kaumku.
            “Maaf, Sep, alangkah baiknya jika kita berteman saja”. Itulah jawabannya. Cukup singkat dan sangat membuatku penasaran.
            Suatu malam dalam lamunanku, teringat kembali aku sewaktu Tsanawiyah dulu. Betapa sulitnmya jika ingin bertemu seorang santriwati, lebih-lebih santriwati yang aku sukai. Selagi disini kenapa tidak, manusiawi kan?, masa seumurku memang  masa yang butuh perhatian dari kaum hawa. Sisi lain hatiku mengatakan “ingat Ta’lim Al-Muta’allim yang telah engkau pelajari, jauhi maksiat, tidak barokah ilmumu”
“Betul kata Ta’lim Al-Muta’allim tapi cinta adalah masalah hati Sep!”. Entah suara dari mana lagi yang  tidak kalah kuatnya mencoba mempengaruhi hati dan pikiranku. Memang benar sih, kata bang Iwan Fals Sang Maestro Indonesia dalam lagunya “Buku Ini Aku Pinjam” , bahwa walau usia kita muda tetapi cinta soal hati. Hafal sekali lagu itu aku nyanyikan. Tidak heran kemudian lagu itu cukup mempengaruhi pikiranku. Ampun, pusing aku harus bersikap seperti apa. Perdebatan ini sering sekali terjadi di dalam hati dan pikiranku tanpa ada yang menengahinya. 
            Enam bulan telah berlalu. Sekarang aku duduk di kelas II Aliyah. Aku masih menyimpan rasa cinta itu kepada Rini. Aku coba kembali menyuratinya. Kata teman-temanku seorang perempuan akan luluh hatinya jika terus menerus diperhatikan.  Aku optimis kali ini gayung pasti bersambut. Apalagi modalku selain optimis dan pantang menyerah seperti yang teman-temanku katakan. Kali ini engkau akan menjadi milikku Rin.
            Seminggu sudah sejak aku luncurkan surat kesekian kalinya memastikan bahwa aku masih menyimpan rasa cinta itu padanya. Dalam surat itu aku katakan, sampai kapanpun aku akan menunggunya. Entah apa yang kurang lengkap dari suratku. Sedemikian indah kuukir kata-kata untuknya  setelah melalui konsultasi teman-teman pujanggaku yang telah berpengalaman menakhlukkan hati banyak perempuan.Tetap saja jawabannya adalah penolakan untukku. “Sep, Rini telah berjanji tidak akan punya pacar di sekolah ini titik!”
            Bagaikan tersetrum listrik ratusan watt badanku terasa sangat lemas dibuatnya. Aku malu sekali kepada teman-temanku yang telah mengetahui rencanaku dari a sampai z. Mereka yang telah tahu betapa aku telah berusaha cukup keras untuk mendapatkan hati Rini mojang priangan Ciamis. Untung aku tidak menuruti saran teman-temanku yang percaya kepada dukun. Menurut mereka,jika cinta ditolak maka dukun harus  bertindak.
            “Sorry friends, kalo urusannya sampe harus ke dukun, gue nggak mau deh, musyrik dan nggak fair.Gue masih bisa lewat cara yang lain”
            “Ya udeh, kita nggak punya cara lain lagi Sep, itu saran terakhir dari kita. Lo mau apa nggak nih ?”
            Lagian cewek aneh kaya gitu lo deketin Sep, kan masih banyak cewek cantik lain yang lebih gampang lo dapetin?.
            “Eh, lo kalo belum tahu dia nggak usah komentar deh, dia tuh beda banget dibanding cewek-cewek lain yang gampang  dideketin dan dimanfaatin sama banyak cowok”, dengan nada emosi akhirnya kutinggalkan teman-temanku. Kalau saja aku menuruti emosiku, pasti aku dan beberapa temanku sudah terlibat perkelahian. Alhamdulillah hal itu tidak terjadi.
            Nyanyian katak iringi aku menuju musholla tepi sawah untuk melaksanakan salat Ashar. Biasanya di musholla kecil ini tidak banyak yang salat karena jaraknya yang jauh dari asrama santri. Aku memilih salat disini karena ingin menikmati kesunyian sore yang indah dan nyanyian katak yang tak pernah letih walau hujan tidak kunjung turun bulan ini. Paling hanya beberapa mahasiswa yang menyempatkan salat di musholla ini karena asrama mereka yang dekat dari sini.
            Sore ini nyanyian katak dan tarian capung sawah tidak seindah biasanya. Padahal di sisi barat sana berdiri tegak Gunung Syawwal seakan memberi contoh seharusnyalah aku juga berdiri tegak sepertinya. Aku lanjutkan langkahku menuju pos penjaga palang pintu kereta api desa Pamalayan. Biasanya kereta-kereta api yang lewat juga sering menghiburku. Kereta api ekonomi yang berwarna oranye atau kereta Argo Wilis yang berwarna putih dengan garis biru abu melintang dari kepala hingga ekornya.
  Aku tidak perduli banyak teman-teman yang mengejekku norak karena sering memperhatikan kereta api yang lewat di hadapanku dengan seksama. Bagiku, kereta api adalah alat transportasi yang sangat gagah perkasa. dan memiliki nilai seni yang tinggi. Ketika ia melintas tidak ada apa dan seorang pun yang dapat menghalanginya. Ketika ia.melintas akan terdengar harmoni nada yang indah karena gesekan roda bajanya yang berton-ton beratnya dengan sambungan satu rel dengan rel yang lain. “Tektektektek,dugdugdugdug” setidaknya seperti itulah bunyi yang sering membuatku terlena karena menikmatinya.
            Di depan pos penjaga palang pintu kereta api ini aku termenung menunggu kereta api yang lewat. Mudah-mudahan dapat sedikit menghiburku dan mengusir kesedihan yang terjadi hari ini. Dengan   sisa tenaga, aku goreskan kembali pulpenku di atas kertas ini. Ingin kutumpahkan tinta dan isi hati terakhirku untukmu Rin.
“Assalamu’alaikum. Rin aku mengerti maksudmu, tetapi bagaimana jika aku terus berkorespondensi denganmu. Ini permintaanku yang terakhirkalinya, please, please ok!.Tak tahukah kamu betapa tersiksanya aku karenamu Rin!”

“Jang, Awas Kareta……..!!”. Dung….Bletak….gabrug, dan semuanyapun menjadi gelap gulita
            “Alhamdulillah,aku masih hidup,dimana aku?”.Belum lagi aku coba untuk luruskan badanku, tanganku yang membengkak memaksaku untuk berteriak kesakitan karena aku coba untuk menggerakkannya. Astahfirullahal’azhim, tanganku yang dibalut mitella membengkak dua kali lipat ukuran aslinya. Aku mencoba untuk mengingat-ingat apa yang terjadi pada diriku sebelum aku terbaring tak berdaya di ruangan ini. “MasyaAllah, suratku, dimana dia?”, kalau saja ada yang menemukannya pasti aku akan malu sekali. Akan semakin tersebar cerita cintaku yang tak terbalas di antara para santriwati. Ya Allah, mudah-mudahan surat itu terlindas kereta hingga hancur lebur atau tercebur di kolam samping rel kereta. Yang penting jangan sampai ditemukan oleh santriwati.
            Toktoktok…..”Assalamu’alaikum!”
            “Wa’alaikumussalam”
            “Gimana kabarnya Sep, sudah lebih baik belum?” ,
MasyaAllah siapa gerangan yang mendatangiku. Mimpi apa aku dijenguk oleh tim kesehatan Pesantren yang cantik-cantik. Siapa lagi kalau bukan   Teh Euis dan bidadariku Rini. Rini memang hanya menemani teh  Euis menjenguk dan membawakanku teh manis, tapi kehadirannya bagaikan hujan  di tengah padang pasir yang tandus.   Masyaallah cantiknya bidadariku. Rini hanya bisa menunduk sambil sesekali mecuri pandangku.
            “Al-Hamdulillah baik teh”, jawabku agak terlambat dan terbata-bata karena baru melihat bidadariku kembali. Entah kenapa saat itu seakan rasa sakit tangan dan tubuhku tidak aku rasakan. Seakan aku siap kembali menulis dan terus menulis puisi untuk bidadariku, padahal tangan kananku masih bengkak dua kali lipat besarnya dari ukuran aslinya.
            “Oh, iya kita nggak lama nih Sep, kita masih harus memeriksa kamar-kamar santri lainnya yang belum berangkat mengaji   malam ini”. “Nggak apa-apa teh, terimakasih banyak ya!”, bergegas teh Euis beranjak meninggalkanku disusul Rini dibelakangnya. Sebelum beranjak pergi menyusul teh Euis, Rini sempat melemparkan secarik surat dan senyumnya yang manis untukku. MasyaAllah, alangkah indahnya ciptaan-Mu itu Ya Allah.
Cukup lama aku pandangi pintu kamar setelah Rini keluar, sambil berharap ia akan kembali lagi karena ada sesuatu yang ia tinggalkan. Benarkah surat yang ia lemparkan di alamatkan untukku?, apa isinya ya?, aku pastikan tidak ada santri lain yang masuk kamar ini, sehingga aku dapat dengan leluasa membuka dan membaca surat yang dilemparkannya.
Bergegas aku bergerak dan menahan sakit tanganku karena aku harus sedikit bergerak untuk mengambil surat itu yang jatuh agak jauh dari tempatku terbaring. Duh, jangan sampai teman-temanku atau siapapun terlebih dahulu masuk sebelum aku mendapatkan surat yang mendarat di pojok kamar di sebelah kananku.
Alhamdulillah, akhirnya kudapatkan juga kau. Aku cium berkali-kali surat itu sambil berharap isinya adalah kabar bahagia  untukku dan untuk bidadariku. Pikirku, biarlah tidak mengapa jika Rini harus menerimaku karena iba melihatku terbaring disini.Yang penting pada akhirnya ia akan menjadi milikku. Bismillah aku buka suratnya.
            “Assalamu’alaikum. Terima kasih atas perhatiannya Sep, untuk kemudian menjadi sahabat korespondensi dan bertukar pikiran akupun tidak bisa, aku takut menyakitimu, baiknya itupun dari kaummu, karena yang lebih tahu tentang dirimu pastilah kaummu”. Rupanya Rinilah yang menemukan suratku setelah aku pingsan karena diserempet kereta ArgoWilis.  Apa lagi selain surat penolakan. Tapi senyum manisnya masih dapat menemani tidurku malam ini walaupun aku ditolak untuk kesekian kali.
            Tektektektek, Dugdugdugdug…….!
            Melodi itu membangunkan aku. Ruang kesehatan pesantren memang berada 50 meter dari rel kereta api. Jadi tidak heran, nyanyian itu terdengar kembali di tengah kesunyian malam. Surat itu masih ada disampingku. Kubaca kembali surat itu untuk mencoba mencari alasan lain agar aku dapat menerima keputusan ini.


            Kenapa Rin, kenapa sekejam itu engkau kepadaku?. teman-temanku   sudah beberapa kali meeting dengan kekasih-kekasih mereka. Sedangkan aku, terus kau beri pernyataan-pernyataan yang sulit untuk dimengerti dan diterima. Aku ingin sayangmu Rin!.
            Teringat kembali aku kepada majalah Annida yang pernah kubaca dan Ta’lim Al-Muta’allim yang pernah kupelajari. Kupikir Allah sedang menunjukkan kepadaku suatu yang berharga. Aku sadar aku diperbudak nafsu. Aku sadar Rinilah yang benar dengan sikapnya yang konsisten tetap menolakku, konsisten dengan semangat belajarnya. Hasrat sesaat ini tak lain adalah ajakan setan untuk berbuat lebih dari sewajarnya. Memiliki, merayu, kemudian mencumbu pada akhirnya. Sekali engkau dapatkan itu, akan sangat sulit untuk melepaskannya kembali. Hal itu adalah candu bagimu
            Seharusnya aku cukup puas dengan senyum manismu ketika menjengukku. Itulah hakku yang masih dapat dan pantas kuterima. Seharusnya aku sadar bukan hakku menikmati rayuan, belaian, cumbuan itu.Aku belum berhak untuk semua itu. Jika saja aku telah merasakan semuanya, kenikmatan apalagi yang akan aku rasakan ketika menikah nanti.
Allahumma Ya Ghoniyyu Ya Hamid, Ya Mubdiu Ya Mu’id, Ya Rahim Ya Wadud Aghnina bihalalika ’an Haramika Wa bi Tha’atika ’an Ma’shiyatika Wa bi Fadhlika ’an Man Siwaaka
(Luthfi Mulyadi, Pancoran, 01 Agustus 2008)





Sinopsis
            Asep adalah salah seorang  santri baru sebuah pesantren di Ciamis Jawa Barat. Ia melanjutkan studinya ke Ciamis untuk mencari lebih banyak pengalaman dibanding yang ia dapat dari pesantrennya waktu Tsanawiyah dulu. Pesantren waktu ia Tsanawiyah dikenal dengan pesantren yang ketat dengan banyak peraturan. Berbeda dengan pesantren tempat ia belajar sekarang. Seperti yang telah ia harapkan, Asep memang mendapatkan berbagai pengalaman yang berbeda, termasuk pengalaman cintanya dengan seorang gadis cantik mojang priayangan Ciamis bernama Rini. Pengalaman yang berbeda dengan pengalaman cinta kebanyakan teman-temannya. Pengalaman  yang membuat ia sadar untuk lebih sabar menunggu saatnya tiba  demi mendapatkan keindahan cinta yang sempurna didunia dan di akhirat . Amin

misteri toilet lantai3


Misteri Toilet Lantai III

             “Ini fakta.bukan cerita yang dibuat-buat. Mari kita fikirkan kenapa bisa toilet di selatan Jakarta, lokasi  yang cukup ramai masih saja ada penghuninya. Setiap hari kan kita tadarrus. Ya di sekolah ini. Di sekolah kita”. Tutur Obay kepada para teman-teman anggota OSIS yang lain. Serius sekali Obay menceritakan pengalamannya ketika ia menjumpai makhluk menyeramkan itu. Putih, rambut panjang dan bau anyir darah. Saat itu ia sedang diberi tugas mencari SKU pada acara Perjusami Pramuka. Maka kegiatan malam hari di sekolah sejak kejadian itu tidak lagi nyaman.
            Cukup banyak cerita yang sampai ke telinga kami tentang kejadian-kejadian aneh disekolah ini. Suara perempuan merintih dari arah dapur dan Musholla. Penampakan Makhluk putih berambut panjang di  beberapa kelas dan toilet saat kegiatan malam di sekolah. Itu semua diduga bersumber dari satu tempat. Ya, Toilet lantai III
            Ruang osis mendadak sunyi. Kami  saling berpandangan. ”Zar, takuuuuuuuuuut” sergap Nur si penakut kepada Zarin. “Tenang yaank, kan ada aku,hehehe” bujuk Zar dengan gaya play boynya. Sebenarnya Zar sama sekali bukan tipe cowok playboy. Ia adalah seorang yang cukup selektif untuk dekat dengan seseorang. Ia cowok cukup asik, setidaknya menurut teman-teman cewek anak-anak osis. Ia paling bisa menjaga rahasia, sehingga ia menjadi teman curhat faforit. Bahkan karena saking percayanya kepada Zarin, ada salah satu teman yang bersedia dilihat sms-sms di hpnya. Berbeda dengan Achil, dan Qiqi yang terkesan agak jaim, juga Obay sang Ketua Osis pecinta seni.
            Ini  bagian dari tanggung jawab kita untuk menyampaikan kebenaran kepada publik. Mari kita tunjukkan kerja kita sebelum kita demisioner”, tegas Obay berapi-api.
“Udahlah bay, banyak program yang tak terselesaikan, lo malah nambah program baru” Iyem mengomentari.
            ”Betul bay, seharusnya kita fokus pada program yang belum terlaksana, bukan tentang Misteri Toilet yang gak penting itu” Achil dan Qiqi menambahkan.



            “Makanya dengerin dulu terusannya, gue mau bilang bahwa toilet kita jadi angker begini bukan tanpa sebab. Gue yakin makhluk itu tambah betah di sana gara-gara temen-temen cowok yang gak cebok dan gak siram WC abis mereka kencing dan BAB.. Jadilah wc sekolah kita wc terangker dan terjorok di bilangan Bangka ini. Ini juga menjadi penting karena bab pertama dalam buku fiqih manapun mengajarkan tentang bersuci. Dan kita mungkin telah lama tak peduli tentang hal tersebut.
            Lo inget kan cerita Ustadz  Ahmad tentang orang yang disiksa kubur  gara-gara gak bersih istinja?.Kalo gak suci trus gimana salat kita bisa sah?”
            “Btw, Istinja’ tuh apa ya?” Tanya Nur dengan lugunya. Selain penakut, terkadang Nur juga telmi.
“Istinja’ itu bersuci dari najis setelah kita buang air kecil/besar, itu yang gue ingat dari penjelasan Ustazd Ahmad” kali ini Atun mulai bicara. Aktifis Paskibra yang tinggi menjulang itu dikenal sebagai anak yang memiliki prestasi terbaik diatas kertas.
            “Ok, sekarang pointnya apa?, what should we do?” Tanya Zarin kepada Obay.
”Justru itu yang akan kita bicarakan.Gak mungkin Presiden bekeja sendirian tanpa bantuan menteri-menterinya kan?”jawab Obay.”Yang ada dipikiran gue simple aja. Yuk kita bersihkan WC MTs.N1. Cowok or Cewek bersihkan WC masing-masing. Kita kan jarang kerja kaya gini.Yang gue inget itu juga bagian dari program kita deh. Dengan ini, kita bisa nunjukin bahwa Osis 2009-2010 peduli, kita juga membantu penjaga sekolah yang siang malam bekerja untuk kenyamanan belajar kita”.
“Waw, luar biasa presiden kita ini. Gue pikir lo cuma bisa mukul marawis doang bay!”, salut Iyem.
            Tak sedikit juga teman-teman  yang diam. “Gue pikir apa untungnya membersihkan wc sekolah yang sudah tujuh rupa baunya seperti bau kali pesing di jalan Daan Mogot yang berwarna hitam pekat. Toh kita bukan pembantu dan tidak digaji. Jelas-jelas ini tugas penjaga sekolah yang sudah digaji untuk itu. Tupoksi kita belajar.” Sangkal Piere.
“Belajar beramal lah Piere, lo kan maen mulu, kalo gak warnet pasti trac-trackan sama Pi’i, trus kapan lo bantuin kita?”. Tanya Achil ke Piere. Piere dan Pi’i memang anggota OSIS yang malas. Jarang sekali mereka terlihat dalam kegiatan-kegiatan OSIS. Inilah salah satu efek negatifnya jika anak telah difasilitasi dengan sepeda motor sebelum waktunya.



            “Pokoke gue gak ikut, gue bukan babu, kerajinan. Kaya gak ada kerjaan lain aja” Pi’i mendukung temannya Piere.
“Terserah lo lah. Sekarang siapa yang setuju kita bersihkan wc angkat tangan ?”, Obay mencoba menyudahi perbedaan pendapat itu. Ternyata hanya Piere dan Pi’i yang tidak angkat tangan. Obay pun tak ambil pusing. Ia memiliki lebih banyak teman yang akan membantunya dibanding yang tidak.
            “Trus, ni dari gue, gue akan tulis di pintu WC (Terima kasih untuk menyiram lubang wc.
 Pakaian suci salat sah Azab Kubur NO Way” tambah Qiqi.
“Satu lagi bay, cuci karpet musholla yang telah bertahun tak pernah kita cuci”, Zarin melengkapi.
“Mantap, ini baru temen-temen gue. So secepatnya kita action. Sebelum semakin banyak orang yang tidak sah salatnya. Dan ketidaknyamanan kita ketika harus berkegiatan dengan menginap di sekolah.
            Mereka pun merencanakan kapan kerja itu dapat dilaksanakan. Sampai pada waktunya mereka dengan senang hati datang ke sekolah. Membersihkan wc, mencuci karpet musholla yang bertahun-tahun tak pernah mereka cuci, menempel poster pada pintu wc.
            Kang Nana dan Mas  Gim penjaga sekolah pun tersenyum lebar dibuatnya. Sebagai penjaga sekolah mereka telah lama berharap ada anak-anak yang juga peduli dengan kebersihan sekolah. Selama ini anak-anak kurang terlihat berperan dalam menjaga kebersihan sekolah. Membuang sampah sembarangan keahlian mereka . Ya, selama ini guru-guru banyak yang mengajar dan belum banyak mendidik dengan banyak diskusi di luar jam pelajaran, teguran dan sanksi. Takut dikatakan Bullying. Takut yang kurang beralasan sebagai pendidik muslim.
            Alhamdulillah, sejak program itu dilaksanakan secara  turun temurun dari generasi ke generasi, makhluk putih anyir menyeramkan itu pun tidak lagi menampakkan wujudnya seperti pernah disaksikan oleh Obay sang ketua Osis. Anak-anak pun berkegiatan di sekolah dengan nyaman. Allah Maha Pemberi Ganjaran atas apa yang telah kita kerjakan. Kesuksesan adalah buah dari pembiasaan-pembiasaan positif yang kita perjuangkan dalam melawan kemalasan . Allahu Akbar.
                                                                                                                        (Luthfi Mulyadi, 20/10/10)

maling gagal


Maling Gagal

            Kriiing, kriing,kring,kriing.”Hoam, hah, jam 00.10”,  mungkin lebih dari lima kali alarm handphoneku berbunyi. Alarm ini aku pasang untuk mengingatkan  bahwa pagi hari ini pacarku Rahma  berulang tahun ke 16. Ya, aku memang punya selera yang muantap kan?, cewek16 tahun cing, artinya keahlianku sebagai playboy tidak kalah dengan Om-Om yang hanya bisa mengandalkan dompet mereka. Aku bisa menakhlukkan banyak hati perempuan karena keahlianku merayu mereka dengan pujian setinggi langit. Kalau  sudah berada di atas awan, aku bisa minta apa saja dari mereka, enak kan?. Tidak salah kalau orang tuaku menamakan aku Boy Asmara, entah tujuannya apa menamakanku dengan nama itu, sepertinya bukan untuk menjadi playboy handal, hahaha.
            Puluhan sms masuk darinya belum kubaca karena aku memang  baru bangun. Duh, pasti dia sedang marah sekali padaku karena terlambat mengucapkan selamat ulang tahun. “Sayang aku capek banget hari ini, suer deh, sejak jam 18.00 setelah salat Maghrib aku tertidur pulas sampai akhirnya terbangun jam 00.20 menit”, mungkin itu yang akan kukakatakan pertama kali kepadanya dalam sms atau langsung menelponnya.
            “Sial!”, sisa pulsaku tinggal Rp86, sebelumnya aku yakin aku masih dapat menghubunginya dengan sisa pulsa sedikit ini. Jadi iklan di tv, radio dan koran terbukti bohong semua. “Bangsat, bohoooong” keluhku lagi dalam hati.
            Satu lagi sms masuk dan kubaca “pelanggan dengan no 086566667777 meminta anda menghubungi dan mantransfer pulsa secepatnya, gak pake lama, hahaha!(Indotas)”, Loh, sms yang aneh, masa ada kata-kata secepatnya, gak pake lama dan kemudian mentertawaiku seakan tahu kesialanku pagi ini..”Iya sayang, seandainya kau tahu kalau aku memang belum dapat menghubungimu, tapi kenyataannya memang aku belum bisa menghubungimu sekarang”.
            “Kreek, Gabruk” kubuka dan kututup kembali pintu rumahku yang semakin keropos dimakan rayap. Walau sudah kucoba menutupnya sebaik mungkin dan sehatihati mungkin tetap saja pintu itu berdecit keras, bahkan terkadang engselnya terlepas jika ditutup terlalu keras.
            “Ok, I’m out side now”, sekarang aku siap bergerilya mencari pulsa demi kamu sayang. Jam di handphoneku menunjukkan sekarang pukul 02.00. Sepertinya prosesku mulai bangun sampai keluar keluar dari rumah memakan waktu cukup lama.”Duh, sabar ya sayang”.
            Keluar dari gang, aku mulai dengan menelusuri jalan utama makam Pahlawan KaliBata yang ramai dengan pedagang duren dengan lampu petromaknya, seperti perahu-perahu nelayan yang mencari ikan tidak jauh dari tepi pantai. Bulan tanggal 23 Sya’ban menemaniku berjalan membelah dinginnya malam. Sesekali ia membuka kerudung awannya dan menampakkan mulutdan hidungnya tanpa sesekali menampakkan matanya yang tidak lagi terkena sinar matahari. Ia seakan ingin mengatakan “aku tahu apa yang kau lakukan pagi ini walau aku tidak melihatmu Boy”.
            “Duh, seharusnya aku ikut para aktifis Majlis Rasulullah SAW atau Nurul Mushtofa bergadang mengisi malam dengan tahajjud atau berzkir bersama memuji Tuhan Semesta Alam. Seharusnya aku menyambut kedatangan tamu agung ‘Ramadhan” bersama mereka.
            Entah, aku merasa mempunyai kepribadian ganda yang mungkin tidak dapat dimengerti banyak orang. Satu hari aku bisa merasa menjadi orang yang cukup baik dengan berbagai ritual dan  aku menikmatinya, lain hari aku bisa merasa menjadi orang yang cukup bejat dan nekat dengan perilaku tidak setia pada pasangan. Rekan-rekan kerja mengenalku sebagai Office Boy yang cukup religius, tapi dibelakang mereka, dua Office Girl telah aku pacari juga. Aku heran sampai sekarang dua Office Girl itu enjoy-enjoy saja dan masih menganggapku sebagai Office Boy yang baik. “Ya Allah betapa Maha Penyayangnya Engkau sampai sekarang belum satupun umpatan atau makian yang ditujukan khusus kepadaku  karena perilaku yang aku lakoni, Engkau Maha Tahu bahwa aku tidak akan sanggup menghadapinya jika itu  benar-benar terjadi”.
            Mengenai kepribadianku yang lain, beberapa orang mungkin dapat menebak apa yang akan terjadi dengannya yang belum bicara pagi ini. Ya, kali ini, ia siap bicara setelah datang gilirannya. “Pagi ini adalah waktu yang cukup kondusif untuk menyusup masuk ke rumah pacarku dan kemudian bercumbu di belakang Ayah, Ibu serta kakaknya, hahaha”. Motivasi yang sangat kuat ini menambah laju langkah kakiku untuk cepat sampai ke tujuan dengan pulsa di tangan sebagai pasword tanpa suara, pembuka pintu rumahnya. Di sudut lain hatiku, kupersiapkan juga mental siap menerima kekalahan jika ini tidak berjalan  seperti yang kurencanakan.
            Pukul 02.30 aku sudah sampai PLN Duren Tiga. Tidak ada satupun pedagang pulsa dengan etalase kecil yang biasanya kutemui di malam hari masih terjaga di pagi hari ini, padahal aku yakin mereka akan berjaga pagi ini di sepanjang jalan ini hanya untukku. “Sepertinya malam ini memang bukan untukmu Boy”, suara itu mengingatkanku bahwa rencanaku adalah rencana yang gila.
            ”TIDAAAK, RENCANA INI ADALAH RENCANA YANG LOGIS DAN SANGAT MUNGKIN DILAKUKAN, APA SUSAHNYA MENGENDAP – ENDAP  MASUK KE RUMAH YANG SUDAH TERBUKA, SECEPATNYA KAU CUMBU DIA,  PUASKAN HASRATMU KEMUDIAN TUTUP DENGAN SEDIKIT BASA – BASI UCAPAN TERIMA KASIH, AKU BAHAGIA SEKALI PAGI INI, SEBELUM KAU TINGGALKAN DIA,HAHAHA,APA SUSAHNYA, HAH?, MANA NYALIMU BOY?, APA KAU LUPA UNGKAPAN “NO FEAR” YANG ADA DI TIAP KAOS PESERTA FEAR FACTOR DAN GRUP BAND YANG KAU CINTAI?”
            Suara itu lebih keras terdengar dengan penjelasan yang sangat masuk akal. Suara ini lebih memantapkan dan meyakinkan bahwa aku bisa melakukannya. Tidak seperti suara pertama yang hanya bisa mengatakan bahwa ini adalah rencana gila, tanpa penjelasan logis seperti para khotib sampaikan di mimbar masjid tiap hari  Jum’at  yang lebih lemah terdengar dan membuatku mengantuk, ragu  lalu meninggalkannya.
            “Pliz deh Pak Ustadz, jama’ah mu bukan  orang tua saja, yang betah kau ajak bicara tentang salat, zakat, puasa serta pergi haji. Anak-anak, remaja serta mahasisiwa adalah juga jama’ahmu yang ingin mendengarkan penjelasan bagaimana Islam mensikapi pacaran, kondom, rokok, ngeceng di mall, drugs,  motivasi belajar,  bekerja keras dan hal lain yang dapat membuat mereka survive di Jakarta yang buas ini”, tiba-tiba saja otakku mengaitkannya dengan khotib jum’at yang sering kali kujumpai di banyak masjid.
            “Guk,guk,guk”, “Astagfirullhal’azhim”, Alhamdulillah pribadi baikkku cukup terbiasa dengan kalimat thoyyibah, mudah-mudahan menjadi tambahan bekalku di akhirat nanti. Dalam keadaan gelap aku memang tidak memperhatikan anjing hitam setinggi anak berumur 9 tahun telah berdiri tegak sambil menjulurkan  lidahnya berada tepat di samping jalan di depan rumah besar berwarna cokelat. Anjing itu menyeringai dan menyalak kepadaku seakan aku maling yang siap diterkam dan dicabik-cabik oleh taringnya yang tajam. Hatiku berdebar keras setelah melihat anjing hitam besar yang masih memburuku dengan mata liarnya. Mudah-mudahan rantai besi itu cukup kuat untuk menahannya sampai aku dapat pergi jauh dari sini.
            “Fyuh, sudah cukup jauh rupanya dari anjing itu”, tapi kok suaranya mendekatnya ya?, Celaka, anjing itu berhasil lepas dari rantainya dan mengejarku sekarang.”WAAA, TOLOOOONG!”, pagi sunyi ini mendadak menjadi gaduh karena suaraku yang ketakutan dikejar anjing. Para satpam rumah-rumah besar pun bersiap dengan pentungan mereka, entah ingin menolong atau malah memukulku karena disangka maling yang mencoba kabur. “AMPUUUN!”, akhirnya beberapa satpam bertubuh tegap itupun dapat mengamankan aku dan anjing yang mengejarku itu setelah berkejar-kejaran sejauh dua ratus meter.
            “Astaghfirullahal’azhim, Al-hamdulillah”, kata-kata itu mambantuku lagi dalam menghadapi mereka. Mungkin karena mendengar aku membaca kalimat thoyyibah, mereka tidak serta merta memukulku dengan pentungan mereka. Sambil terengah-engah menahan nafas yang memburu, akupun kemudian diinterogasi oleh ketiga satpam itu.
“Woi tong, lo maling ya?”, “Bego lo, mana ada maling ngaku, jadi nggak usah ditanya dia  maling atau bukan, dah jelas-jelas jam segini dia kabur kenceng banget, apa lagi kalo bukan maling?”.
            Kini giliran satpam yang terlihat paling senior bertanya kepadaku, “ Dah, udah biar gue aja yang tanganin.Tong, jawab yang jujur, lo ngapain jam segini masih keluyuran aja?”, “Saya lagi cari pulsa buat hubungin pacar saya yang ulang tahun pak, di tengah jalan saya dikejar anjing”. Aku usahakan  lebih tenang menjelaskan apa yang terjadi sesungguhnya dengan bahasa yang sopan agar mereka percaya”. Penampilanku memang cukup meyakinkan bahwa aku bukanlah orang jahat, ditambah wajahku yang baby face membuat mereka iba dan akhirnya melepaskanku tanpa syarat apapun. Buktinya aku masih dipanggil tong, artinya aku masih dianggap remaja oleh mereka. Untung mereka tidak sempat memeriksa KTPku, disana tertulis jelas umurku 26 tahun. Bangkotan kalau orang betawi bilang, hehe.
            “Kriiiiing,kriiiing”,”Iya sayang, aku lagi berjuang untuk hubungi kamu nih”, aku pun masih bebicara sendiri seperti orang gila yang haus pulsa. “pelanggan dengan no 086566667777 meminta anda menghubungi dan mantransfer pulsa sekarang juga”. Sms itu membuatku tersiksa dan memaksaku terus mempercepat langkahku untuk sampai ke pasar buncit yang aku yakini telah ramai pagi ini.
            Benar, pasar buncit memang ramai , tetapi ramai dengan pedagang sayur dan buah di sisi-sisi jalannya. Aku mulai berspekulasi bertanya tiap kaki lima yang berdagang di pinggir jalan. Pengalaman pahit menjadi sales membuatku percaya dan yakin dari 10 pedagang kaki lima pasti ada satu pedagang yang menjual voucer pulsa. Sampai kini, pengalaman itu tidak terbukti dan kian membuatku benci kepada sales dan MLM dengan muka tebal mereka. Buktinya tidak satupun pedagang kaki lima yang menjual voucer pulsa di pasar ini.
            “AAAAH”, aku berteriak kecewa setelah spekulasiku datang ke warteg dengan cat tembok biru hijau gambar produk salah satu sellular yang mengiklankan produknya dengan artis cantik Luna Maya pun ternyata hanya menjual semur telur, tahu dan jengkol. Jam 03.20, sudah semakin pagi rupanya, aku belum dapat pulsa untuk menghubungi Rahma. “Maafkan aku sayang!”
            “Woi, anjing!, cari ribut lo ama ague?, lo nggak kenal siape gue?”, seorang laki-laki dengan pakaian lusuh  berjalan sempoyongan dengan membawa botol minuman menghampiriku. Badan dan mulutnya berbau alkohol, tangannya kemudian tanpa basa-basi lagi  mengayunkan  botol minuman kearah kepalaku. Untung dia mabuk berat, sehingga gerakannya menjadi lambat dan tidak dapat fokus untuk mengenai sasarannya.
Tampaknya ia tersinggung dengan teriakan kecewaku tadi.
            Jantungku kembali berdegup keras. Aku mencoba untuk tenang dan berpikir. Aku yakin dia tidak dapat mengejarku jika aku melarikan diri. Kalaupun dapat, pasti ia akan jatuh tersungkur tidak jauh dari tempatnya mulai berlari. Tidak ada pilihan aku harus berlari sedikitnya 20 meter untuk menjauh darinya, setelah itu baru aku akan kembali melangkah normal.
            Jam 03.30. Tidak ada lagi harapan untuk mendapat pulsa, karena tidak ada lagi pedagang sekarang. Di ujung pasar ini kembali mencekam dengan adanya bekas rumah bongkaran di sebelah kiri jalan yang rimbun ditumbuhi  oleh alang-alang dan rumput liar. Disinilah tempat dan waktu yang tepat untuk mengubah rencana menjadi “Mission Imposible”.
            Rumah Rahma tidak jauh lagi dari sini, kira-kira 100 meter lagi dengan dua belokan kanan dan kiri setelah menyeberangi kali. “Ok, semuanya sudah terlanjur, terlanjur dikejar anjing,terlanjur diinterogasi, terlanjur spekulasi, terlanjur ribut dengan preman pasar, sekarang harus dituntasi dengan Mission Imposible menyusup masuk rumah Rahma tanpa Password. Hasrat dan kecewa ini telah membuncah dan melahirkan kenakatan yang besar yang sulit untuk di bendung oleh  akal sehat. Tinggal menunggu lucky or unlucky pagi ini.
            Tanpa diminta otakku telah terstimulus untuk berfikir keras bagaimana menuntaskan rencana ini. Pastikan keadaan aman di mulut gang, tanpa ada hansip atau anak muda yang  nongkrong di sana. Tidak tergesa-gesa waktu berjalan, juga tidak terlalu lambat.Jika ada hansip atau anak muda di mulut gang batalkan rencana. That’s all I have.
            “Fyuh!”, jam 03.40, hatiku berdetak keras sekali. Aku merasa  seperti perampok di film action  Hollywood tanpa peralatan canggih apapun. Aku berusaha mengingat dan meniru film action itu sebisanya agar orang-orang tidak curiga padaku. Ternyata film-film itu sangat bermanfaat bagi orang yang ingin berkarir menjadi penjahat yang gila sepertiku.
            Tidak ada hansip, tidak ada anak-anak muda yang nongkrong di mulut gang. Artinya kecemasanku sudah terjawab. Tinggal sekarang meneruskan perjalanan menyusuri gang yang cukup sempit dan gelap. Kecemasan satu hilang , timbul kecemasan baru  yang membuatku mondar mandir bodoh di tengah gang. Otakku kembali berpikir keras berusaha melengkapi rencana yang belum aku persiapkan tadi.
            “Ampun”, rencanaku tadi baru sampai pada keadaan aman atau tidak aman di mulut gang. Setelah masuk ke dalam gang aku belum tahu harus apa lagi. Gerakan mondar-mandirku di tengah-tengah gang dipastikan dapat mengantarkan aku ke sel Polsek Jakarta Selatan  karena sangat mencurigakan. Kalau aku tertangkap oleh warga saat ini, aku belum menyiapkan  jawaban yang bagus untuk mengelak dari tuduhan kriminal.
            Aku paksakan untuk terus melangkah melanjutkan perjalanan menuju rumah Rahma dengan langkah yang sangat berat. Tidak lebih dari dua puluh langkah rumahnya akan segera terlihat jelas.  “Ya Allah aku tidak mau tertangkap pagi ini. Aku tidak mau mencoreng muka orang tuaku karena kelakuanku ini”. Gila nggak tuh, dalam kondisi seperti ini aku masih berdoa, meminta kepada Allah untuk mengamankan My Mission Imposible.
            Masih ada kenekatan dalam otakku walau hatiku sudah beberapa kali memintaku untuk segera meninggalkan lokasi berbahaya ini. Tepat di depan rumah Rahma yang tertutup gorden aku berdiri mematung tanpa suara dan gerakan sedikitpun. Jarak antara aku rumahnya kini tinggal tiga jengkal lagi. Otakku langsung mengintruksikan aku mengintip ke dalam rumahnya dengan hanya modal nekat, lagi-lagi nekat. Kali ini tidak ada penjelasan logis dari otakku. Ia hanya ,mengingatkanku jika kau berdiri mematung terlalu lama tanpa aksi, kau juga akan dapat menjadi tertuduh perbuatan kriminal.  Suara yang terdengar sangat lantang tidak lagi kudengar sekarang. Semua sunyi senyap berdiam diri menyerahkan semuanya kepadaku, seakan tidak  ingin bertanggung jawab telah membawaku sejauh ini.
            “God, i really hate this”. Akupun mengikuti intruksi untuk segera mengintip ke dalam rumahnya. Mungkin jika Rahma tidur di ruang depan aku masih bisa berbisik untuk dibukakan pintu. “Sial”, aku lihat  ayahnya tidur di ruang depan. “Cukup sampai disini, Mission Is Fail”.Aku putuskan untuk segera angkat kaki dari tempat menyeramkan ini.      
            Belum dua langkah aku berjalan mengendap-endap mundur dari lokasi, terdengar suara ayam yang merasa terancam dengan gerakanku berbarengan dengan datangnya musang musuh abadinya.”Keok, keok”, suara ayam itu rupanya membuat salah satu tetangga Rahma  sedikit tersadar. Ia sempat melongok ke luar rumah untuk memastikan aman. Aku pun segera tiarap untuk menghindari pandangan tetangganya Rahma yang baru saja kuingat bahwa ia adalah seorang tentara yang sangat mungkin mempunyai insting yang tajam jika ada orang yang ingin berbuat kriminal. “Ampun”, Jantungku berdegup sangat kencang. Terlintas banyak kenangan indah dengan keluarga baikku. Percaya tidak percaya pagi ini, aku akan segera mencoreng nama baik mereka Aku sudah pasrah jika tentara itu menangkapku atau malah  menembakku dengan pistolnya dalam keadaan tiarap seperti ini.
            Tiga menit aku tiarap, rupanya tentara itu tidak melihatku.”Alhamdulillah”,  Setelah memastikan aman, aku bergegas meninggalkan rumah Rahma dengan berat hati. “Sayang, aku pulang ya!”, bisikku lirih.
            Tertatih aku berjalan karena  letih dikondisikan selalu pada keadaan mencekam baik fisik maupun psikis yang aku buat sendiri. Rumah Rahma sudah tidak terlihat lagi. Suasana mencekam perlahan meninggalkan aku. Perlahan pula perasaan damai menggantikannya, menghampiriku saat berada di pinggir jalan utama menuju Hero Kemang. Sayup-sayup salawat terdengar tidak jauh dari jalan utama ini. Aku tidak tahu kemana lagi kaki ini akan membawaku. Seperti dalam mimpi, aku berjalan di pagi menjelang subuh ini dalam  keadaan yang letih dan mengantuk. Beberapa kali kakiku tersandung batu dan aku tidak menghiraukannya.”Fyuh, Ya Allah aku letih, aku ngantuk”, keluhku pada-Nya. Akupun duduk dipinggir jalan itu sambil menikmati lalu-lalang mobil-mobil mewah yang melintas dengan wanita-wanita cantik dan musik yang cukup keras terdengar dari dalamnya, seakan tidak mau kalah dengan suara salawat dari masjid. Aku pikir mereka tidak jauh berbeda denganku, yang membedakannya adalah mereka mempunyai fasilitas untuk bersenang-senang sedangkan aku tidak. Mereka berani  mambuka identitas mereka di depan publik sedangkan aku tidak. Aku hanya maling gagal yang pengecut, yang masih berkeyakinan  aku adalah makhluk-Nya yang  lebih baik dari mereka di mata Tuhan. Semoga.
            Jam 04.15. Sekarang  mataku tertuju pada minimarket yang ternyata buka 24 jam. “Ampun”, dengan tenaga yang masih tersisa, aku melangkah menuju minimarket tersebut dengan keyakinan ada pulsa di sana.”Sayang, tunggu ya!”. “Alhamdulillah”, minimarket itu menjualnya.
“…Kau hancurkan aku dengan sikapmu, tak sadarkah kau telah menyakitiku…”, Aku baru tahu ternyata Rahma telah mengganti nada sambung handphonenya dengan lagu ini. “Assalamu’alaikum, selamat ulang tahun ya sayang, aku ka…”, ” Terlambat, kita putus!”.belum lagi aku lanjutkan pembicaraanku, tiba-tiba Rahma memutuskan pembicaraan dan cintaku. Aku coba lagi berpuluh-puluhkali menghubunginya, tapi ia tetap enggan menerimanya.
“Allahu Akbar Allahu Akbar,…Hayya ‘alas Sholah, Hayya ‘alas Sholah, Hayya ‘alal Falah, Hayya ‘alal Falah…”, Sekuat tenaga aku langkahkan kakiku yang lunglai menuju Masjid yang telah memanggilku untuk menemui-Nya. Tidak ada lagi energiku untuk berlama-lama dengan kekecewaanku yang sempurna. ”Nothing to lose”, aku yakin aku akan dapat sesuatu yang lebih berharga pagi ini. Rahma memang telah membuatku begitu tergila-gila dengan kecantikannya, tetapi lagu cinta-Nya seharusnya lebih indah dan dapat menetramkan hatiku yang sedang sakit ini. Pagi ini aku ingin adukan hal itu pada-Nya. Akupun kembali ke dalam  peluk-Nya sambil berucap “Marhaban Ya Syahru Ramadhan, Marhaban Syahrus Shiyami…”.
(Luthfi  Mulyadi, 02 September 2008)



Sinopsis

Boy Asmara adalah seorang yang sering bergelut dengan suara hatinya. Walau ia dikenal sebagai karyawan (Office Boy) yang religius di tengah-tengah rekan-rekan kerjanya, akan tetapi iapun memiliki cerita yang sangat kontras dengan kepribadiannya yang positif. Ia mengenal dirinya sebagai orang yang memiliki kepribadian ganda yang saling berlawanan. Suatu pagi buta, Boy dingatkan oleh alarmnya untuk mengucapkan ucapan ”selamat ulang tahun” kepada selingkuhannya Rahma. Karena tidak memiliki pulsa yang cukup, maka ia tidak dapat menghubungi pacarnya. Iapun keluar rumah untuk berburu pulsa. Pagi itu adalah pagi yang penuh dengan cerita tentang pergelutan hati dan pikirannya. Mulai dari dikejar anjing, diinterogasi satpam, ribut dengan preman pasar sampai keputusannya untuk menjalankan Mission Imposible yang gila. Pada akhirnya setelah melewati banyak ketegangan, iapun memang harus berdamai kembali dengan hati nuraninya dalam pelukan Ilahi di salah satu masjid di bilangan Kemang.




.