Kamis, 30 Mei 2013

2rebu


Allah Jumpaiku di  Pom Bensin

Bismillahirrahmanirrahim.
Kamis, 30juni 2013. Bangun kesiangan  hampir melemahkan  semangatku tuk memeroleh nilai TOAFL yang lebih baik. Pagi ini aku tetap berangkat meski hanya tersisa Rp.1500, di dompetku.
“Ayolah terus semangat!”, teriak hatiku.
 Kuyakin ribuan orang bernasib sama denganku, bahkan lebih buruk dengan terlilit hutang jutaan  rupiah. Mereka para pengusaha yang pantang mundur terus berjuang  dengan berani meminjam ratusan juta rupiah dengan segala resikonya, aku hanya baru bisa angkat topi untukmu. Ya Allah berikan aku keberanian seperti mereka, betapa pengecutnya aku di tengah limpahan anugerah-Mu. Astaghfirullhal’azhiim.
Jalan menurun lalu menanjak lagi lewati pemakaman umum Jeruk Purut adalah jalur keseharianku menuju UIN. 30meter sebelum persimpangan Flyover menuju Cipete terlihat kendaraan sangat padat sekali. Terhenti aku dalam antrean panjang kea rah tersebut. 2menit mengantre segera aku berputar menuju jalan Ampera berharap lebih lowong jika lewat jalan tersebut. Bodoh sekali jika terus memaksanakan diri merangsek ke depan menuju antrean panjang tadi. Sepertinya hujan besar semalam merendam beberapa ruas jalan di depan sana.
Sekarang aku di lampu merah perempatan Trakindo menuju Simatupang. Masih menyimpan asa untuk melanjutkan perjuangan ke kampus. Rutinitas  semrawutnya  lalulintas mulai terlihat sejak tadi di Ampera. Empat lajur dua arah dipenuhi oleh sepeda motor dari arah berlawanan. Masyaallah, seperti ini keadaannya setiap hari terlebih jika hujan hampir di setiap daerah di Jakarta. Satu banjar mobil dan tiga banjar motor mengarah ke pusat kota berlawanan denganku. Sekitar 10tahun yang lalu kita hanya melihat hal ini saat hari-hari lebaran atau hari libur lainnya. Kesemrawutan yang sebenarnya tidak dapat  lagi diterima oleh akal sehat, tetapi terus kita jalani setiap hari. Siapapun akan sangat bingung menghadapinya.
Lampu merah di depanku, belasan motor memaksakan untuk terus merangsek maju meskipun bukan lagi haknya. Ratusan mobil dan motor tertahan karena ulahnya. Lampu berubah hijau, salut buat barisan mobil dan motor di belakang dan sekitarku yang memberi kesempatan untuk  mereka  yang tadi sempat tertahan.  Beberapa detik kemudian barulah kami melaju kembali.

Masuk di jalan Simatupang keadaan makin terlihat semrawut. Keterbatasan bensin membuatku mengambil  jalan keluar dari kesemrawutan dan macet parah ini. Akupun memutuskan untuk tidak melanjutkan perjuangan menuju kampus.  Akan sangat tersiksa jika kehabisan bensin di tengah macet tersebut. Ternyata jalan tersebut menuju komplek perumahan marinir AD, mereka adalah orang-orang dengan tingkat disiplin yang tinggi dan mempunyai daya tahan fisik yang kuat. Subhanallah, hebatnya jika seorang bisa memaksimalkan apapun potensinya.
Tiba aku sekarang di samping kebun binatang Ragunan. Mencari ATM guna membeli makan pagi dan minum buat motorku. Alhamdulillah, ada ATM BRI di Litbang Kejaksaan Agung RI. Rp22.000,- sisa uangku kini di ATM setelah kuambil Rp.50.000,-. Kontras sekali dengan pegawai-pegawai  kejaksaan yang berdompet tebal dan bermobil mewah. Alhamdulillah, Alhamdulillah, syukuri,syukuri,syukuri!.
Di pikiranku sekarang adalah bagaimana mendapatkan uang yang halal pastinya. Kapan, dimana, bagaimana memulai kembali menjadi tukang ojek sempat terlintas di pikiran. Jika harus berdagang agaknya aku perlu cukup modal. Jika harus menjadi tukang ojek di daerahku sendiri, sepertinya ibuku tidak dapat menerima. Orang-orangpun tak mau tahu, aku adalah mahasiswa PPG yag seharusnya menerima Living Cost tiap bulannya, meski kenyataannya LC belum cair sampai detik ini. Syukuri, Syukuri, Syukuri, Alhamdulillah.
Kembali kita ke jalanan. Agaknya sangat wajar jika pagi ini aku ingin memanjakan diri dengan menikmati  sedikit ketenangan danau kecil di belakang bumi perkemahan Apiari.  Secangkir kopi dan sebatang rokok temaniku menghanguskan beban pikiran di kepalaku. Subhanallah, sangat indah disini. Ketenangan air danau dapat menjadi obat bagi kalutnya pikiran. Alhamdulillah. Terlihat jelas gedung ESQ165 di sebelah barat laut, bulanpun masih terlihat jelas di pagi hari ini di atas sana. Alhamdulillah, indahnya hari ini. Aku bahagia, aku bahagia.
Melengkapi bahagianya hatiku, akupun mampir di musholla pom bensin di seberang sekolah pariwisata. Terpanggil aku untuk mampir di musholla. Berwudhu,  kemudian salat Dhuha 8rakaat. Telah cukup lama aku meninggalkannya. Padahal ia pernah menjadi rutinitas yang membuat hari-hariku istimewa bahkan luarbiasa. Betapa tidak, tanpa keajaiban yang aku usahakan dengan amalan ini, mungkin aku tidak dapat tergabung dengan teman-teman yang luarbiasa di PPG PBA 2013. Bu Eva S2 yang pernah keliling Eropa, Ust. Ahid S2 alumni Sudan, Ust.Muchtar alumni Mesir, Ust. Hilman Fauzi S2 sekaligus penerjemah handal, Ust.Fauzi alumni LIPIA dengan kekayaan kosakatanya, Ust. Zainal the best of us, Gus Julal S2 sang organisatoris ulung, politisi,business owner, Bu Erna sang guru kelas yang paling-paling antusias dalam belajar (salut bgt), Ust. Bahrul yang punya suara Beby Romeo, Ust. Irwan  yang paling seru, Ust.Syukron sang ahli strategi dan  pengabdi pada orangtuanya (terus belajar darinya) dan teman-teman yang lain yang tidak kalah liar biasanya,eh luar biasa maksudnya.
Dengan segala keluarbiasaan itu, sepertinya tak ada alasan untuk tidak menggiatkannya kembali. Ingin kugiatkan kembali, dzikir, salawat, Yasin, Arrahman, Al-Waqi’ah, dan Al-Mulk. Bismillahirrahmanirrahim, mulai detik ini ya Allah ingin kucoba lagi terus dekat denganku, karena sesungguhnya yang kubutuhkan adalah dekat dengan-Mu. Subhanallah, Allah jumpaiku di pom bensin (luthfi mulyadi,11:37)

Selasa, 07 Mei 2013

the vocalist


The Vocalist

“Pak Luthfi!,pak Luthfi!”, suara itu persis 2 meter di belakangku.
“woi, sape tuh?”, jawabku.
 Akupun memperlambat laju motor agar dapat melihat wajahnya lebih jelas.
“Subhanallah, Faisal ya!”,
 ia pun mensejajarkan motornya dengan motorku juga memperlambat lajunya
“Iya pak!”,
Ringan saja ia menjawab. Ia adalah salah seorang selebritis MTs.N1 pada masa penjajahan Jepang di Indonesia,hehehe. Pada masanya lah, sekitar tahun 2007-2008. Waktu itu ia dikenal dan disukai banyak kaum hawa karena kegantengan dan kemerduan suaranya. Beberapa kali ia perfom dengan gitar di hadapan para fansnya. Lagu andalannya adalah lagu yang dipopulerkan Repvblik Band waktu itu.
“Hoho kasih kuingin kau tahu, betapa….(begitulah kira-kira potongan liriknya)
Yang juga menarik dikomentari pada saat itu adalah, dari beberapa personil Repvblik di lagu itu hanya terdengar suara piano mengiringi suara vokalis. Pertanyaannya pantaskah disebut band jika Gitaris, Drummer,Bassist tidak berperan dalam mengiringi vokalis dalam menyanyikan sebuah lagu andalannya. Cukup kasihan aku melihatnya saat itu beberapa personil yang tadi disebutkan menganggur di sebuah video klip. Atau bisa juga kasihan padaku yang belum banyak mengerti musik,hehehe.
“Masyaallah, siape tuh yang belakang”,
tampak seorang gadis memeluk pinggangnya sambil tersenyum.
“harim pak,harim insyaallah!”,jawabnya mantap.
“sukses ya!”,
doaku padanya dan juga pada diriku. Pastinya kita semua sedang berjuang melawan nafsu
Entah kenapa aku malu jika bertemu terlalu lama dengan siswa/iku yang sedang  asik berpacaran. Laju motorpun kuperlambat dan kemudian berhenti. Kubiarkan ia mendahuluiku.



Lets discuss this
Seorang teman pernah berkata :
 “suatu masa dengan sebuah cerita yang telah lewat dan belum pernah kita rasakan ia akan menuntut penuntasannya”, bisa jadi ini benar adanya. Belum pernah kurasakan pacaran masa SMA, terlebih SMP. Apakah ini yang membuat aku iri pada mereka yang melakukannya sekarang?, lalu berlarut-larut memikirkan seharusnya mereka tidak lakukan hal ini, banyak hal yang bisa mereka lakukan selain hanya asik ma’syuk berduaan kapanpun dimanapun.
Masih dengan bangga aku membela “dengan kutinggalkan pacaran saat itu, bahasa Arab dan Inggris, organisasi, pengalaman bertualang  lebih banyak dan lebih  baik dari kalian, dan Alhamdulillah aku banyak merasakan manfaatnya sekarang ”
“Hey!, calm down, their future is not your”,
Ada benarnya juga kata-kata ini. Persetan dengan mereka yang tak mau ikuti aturan. (Hehehe, emosi neh ye!) Mari raih masa depan dengan orang-orang yang juga ingin meraih masa depan gemilangnya. Tapi kok individualistis banget ya?
“yes it is, but they are our brother & sister in Islam, aren’t they?
Bagaimanapun mereka adalah saudara kita. Astaghfirullhal’azhim. Ampuni atas kebanggaan ini Ya Allah. Terimakasih kau telah tunjukkan jalan yang memudahkan hamba-Mu untuk mengabdi.
Beda Tangerang tahun 1995, beda Ciamis tahu 1998, beda pula Aliyah di Jakarta tahun 2013. Terus kubanding-bandingkan catatan perjalanan studiku dengan mereka, para siswa-siswiku. Aku terus berpikir positif mereka punya jalan yang jauh berbeda dengan jalanku pastinya, pastinya. Toh Alhamdulillah, syukurku, masih ada dan terus akan bertambah minat generasi  yang melanjutkan pendidikan di Pesantren. Semoga kekhawatiran ini berbuah pahala.
واليخش الذين لوتركوا من خلفهم ذرية ضعافا...
Satu hal lagi yang dapat membantu kita membentuk generasi rabbani adalah usaha kita   yang maksimal dalam merangkul mereka sama-sama mempelajari  Islam yang Kaffah Islam yang indah. Dengan penjelasan yang logis dan usaha  menjernihkan hati dan pikiran dengan segenap kekuatan dan kesabaran Insyaallah merekapun akan senang hati menjadi siswa/I yang baik.
Sebelum menyerah pada pikiran kawin-kawin dan kawin yang disebabkan oleh banyak media destruktif pornografis , bagaimana jika kita mengenakan mereka pada komunitas-komunitas yang semakin banyak bermunculan. Pikirku ini sangat posistif dalam rangka mencounter pikiran-pikiran negatif, “kawin,kawin dan kawin” Memang sangat sulit mengalihkan pikiran yang sudah terlanjur kenal yang enak,hehehe. Tapi demi masa depan yang lebih cerah kenapa enggak?

Nyok kenalan sama  komunitas2 ini :
1.       Pecinta Bus (bus mania)
2.       Pecinta Kereta Api
3.       Traveling
4.       Pecinta Alam
5.       Pendaki gunung
6.       Pecinta Nabi
7.       Karate
8.       Taekwondo
9.       Kungfu
10.   Silat
11.   Pramuka
12.   PMR
13.   Paskibra
14.   Futsal
15.   Sepak bola
16.   Teater
17.   Puisi
18.   Perpustakaan
19.   Fotografi
20.   Sepeda
21.   Mancing mania
22.   Melukis
23.   Menari
24.   Marawis
25.   Hadhrah
26.   Karang taruna
27.   Volly
28.   Basket
29.   Tenis meja
30.   Drumband
31.   Dan masih banyak lagi. Cari aja di google kalo kurang!,hehehe
Tak kenal maka tak sayang. Karena lo pade belum kenal dan menutup mata dari komunitas-komunitas di atas itulah sebabnya  lo bisa tersiksa sama “kepengen nyang ntu” dan gak dapet2. Jangan terus diikutin bro. Mending lo coba berani tuk kenal sama komunitas-komunitas sehat jiwa dan pikiran kaya yang gue sebut di atas. Di jamin komunitas-komunitas di atas bisa ngasih lo lebih buanyak dibanding hanya kebutuhan selangkangan. Pastikan lo capek secapek capeknya dengan kegiatan-kegiatan di atas, sehingga pikiran-pikiran sekitar selangkangan minimal berkurang.
 Sebanyak-banyaknya lo ikutin tuh kegiatan. Bahkan kalo lo beruntung lo bisa go nasional or internasional. Lewat Pramuka minimal lo bisa keliling Indonesia.mantep toh!
Masyaallah, kok jadi fulgar gini ya. Gak apa-apa dah.
                Terlepas dari usia mereka adalah usia (SMA -17th)yang sudah diperbolehkan melakukan perkawinan menurut UU perkawinan Indonesia pastinya melalui prosedur yang telah ditentukan, maka penyuluhan harus lebih giat lagi diadakan. Bisa jadi penyuluhan-penyuluhan yang seharusnya dilaksanakan gagal karena banyak koruptor yang menggondol dananya. Kalo begitu banyaknya yang benci koruptor kenapa sih belum ada yang nembak langsung kepalanya?, kan selesai tuh.  Semua ini demi melahirkan generasi rabbani yang soleh dan solehah. Betapa perkawinanan yang tidak diinginkan atau tidak direstui akan melahirkan  generasi yang lemah terlebih kawin di luar nikah. Adalah suatu yang tidak diinginkan menghadapi anak atau cucu sendiri sebagai musuh sebagai mana halnya Nabi Nuh as. Tetapi jika harus demikian mari kita hadapi dengan bijak selalu mengharap pertolongan dari Allah Yang Maha Segalanya. Mari ikhlaskan mereka yang terjerumus adalah taqdir-Nya yang buruk sesuai pilihan mereka.
Kalo ada yang suka nanya,
“mending mana pura-pura baik apa jahat?”, “jawabannya “mending gak pura-pura”
 “mending mana mantan ustadz apa mantan penjahat?”, jawabnya “mending ustadz seterusnya sampe husnul khatimah.hehehe…amin
Maha Suci Allah yang menciptakan jalan kehidupan manusia yang serba misterius. Kita tak pernah tahu akan seperti apa masa depan kita. Bagaimana jika mereka Allah swt beri kesempatan untuk bermaksiat lalu taubat, sadar dan bangkit menjadi hamba-Nya yang luar biasa solehnya bermanfaat bagi banyak makhluk-Nya. Bagi banyak makhluk-Nya bukan hanya manusia. Dicintai Allah swt dan banyak makhluk-Nya, dan mendapat Husnul Khatimah. Subhanallah.
Doa kita pada-Nya :
يا الله بها
يا الله بها
يا الله بحسن الخاتمة
(Luthfi mulyadi,05Mei2013)

Jumat, 03 Mei 2013

menuju damai

Menuju Damai

Sabda Tuhan
Hasrat Damaikan
Mawaddah Rahmah
Aku dengar
Aku baca
Aku Hafal
Aku yakin
Aku Yakin
Sabda Nabi
Obati luka
Jalani Sunnah
 Aku dengar
Aku baca
Aku Hafal
Aku yakin
Aku Yakin
Kata Ayah
Kata Ibu tersayang
Sabar...
Bertahanlah!
Belum tiba waktunya
Kau siap melangkah
Aku berjuang
Aku tertatih
Aku sekarat 
Aku ragu
Ayah Ibu aku sekarat..
Aku sekarat
Tuhanku
Nabiku
Ampuni 
Belum dapat rasakan damai yang kuyakin
Tak mampu reguk obat sembuhkan luka
Biar kusekarat demi ayah ibu
Tuhanku
Nabiku
Cintaku Pada-MU di atas segalanya
Kuyakin bantuku berjuang
Berjuang
Temaniku dalam sekarat
Yakinkan saatku ragu 
Ini jalan-MU
(Senin,21Agustus2006,-10.00)

Rabu, 01 Mei 2013

Mahameru3676mdpl


Aku dan Mahameru

Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahilladzi Ahyaanaa ba’da Maa Amaatanaa wa Ilaihin Nusyuur. Subhanallah indahnya pagi ini. Ahad, 17Maret 2013. Aku sedang menikmati liburan Kuliah PPG PBA insyaallah selama 4minggu ke depan di rumah ibuku di bilangan Pancoran Jaksel. Semoga liburan ini cukup produktif bagiku. PPG mendorongku kembali  untuk aktif menulis apapun itu tulisannya. Terlebih tulisan itu adalah tulisan ilmiah yang memiliki referensi yang jelas.  Akan sangat indahnya jika saja dalam sebulan ini aku dapat menghasilkan satu buah artikel dan kemudian dimuat di surat kabar. Semoga. Amin.

Pamflet.
Pamflet yang tertempel di dinding fakultas itupun segera ku ambil. Ada lebih dari tiga pamflet yang ditempel di fakultasku. Fakultas Ushuluddin tahun 2003-2004. Jadi kupikir tidak akan masalah jika kuambil. Terlebih panitia kegiatanpun tak tepat menempelnya. Seharusnya ia ditempel di papan pengumuman. Ini malah di tempel di dinding. Semakin kuat alasanku untuk mencopotnya. Aku bukan siapa-siapa saat itu. Bukan aktifis kampus yang tergabung dalam salah satu organisasi. Hanya pemain Tim inti jurusan  Tafsir Hadits waktu diadakan kompetisi di lapangan kampung utan. Selebihnya waktuku ku dedikasikan buat TPA Al-Bayyinah dan Remaja RT.007/007. Sepakbola,mangajar dan mengaji di musholla. Pikirku aku tidak akan kuat dengan lingkungan kampus yang permisif.Hiiii ngeri…bisa-bisa….hehehe….

“Pendakian Gunung Semeru 29 Juli – 06Agustus 2004 Mapala Arkadia UIN Jkt”, Subhanallah, ingin sekali kuikut kegiatan ini. Tapi aku sedang menulis skripsi. Wisuda akan dilangsungkan bulan September tahun ini. Setelah diskusi panjang lebar dengan Bapak Ibuku, aku terus membujuk mereka dan berjanji akan menuntaskan skripsiku dan wisuda pada Maret 2005.  Alhamdulillah mereka mengizinkanku tuk ikut dalam kegiatan ini. Subhanallah bahagianya aku memiliki orangtua seperti mereka. Buktinya pencapaianku ke puncak Mahameru menjadi kebahagiaan dan kebanggaanku sendiri yang tidak dimiliki semua orang. Tak peduli teman-teman yang sedang mengejar tuk wisuda pada bulan September 2004 tahun ini. Aku akan mendapatkan suatu yang mungkin tidak akan aku capai jika tidak sekarang. Hidup adalah pilihan. Akupun memilih kegiatan ini. Dengan biaya cukup murah Rp300.000,- untuk seminggu.
Gerbong Arkadia biasa teman-teman mahasiswa menyebutnya. Kita berkumpul di sana pukul Jum’at  Juli 2004, pukul 08.00. wib. Setelah pengarahan dari panitia kitapun berangkat menuju stasiun Senen Jakarta pusat. 17jam perjalanan Jakarta-malang dengan menumpang kereta api ekonomi Matarmaja. Ongkos kereta Matarmaja Jakarta-Malang waktu itu Rp.55.000,. Para pendaki, ibu,bapak, tua, muda, pedagang, semua berkumpul untuk satu tujuan Semeru,hehehe…. Bukan kale, tujuannya beda-beda lah.

Satu potongan cerita yang paling aku ingat saat malam hari itu adalah saat kereta berhenti tepat di pinggir tebing berbatu di pinggir pantai dengan siraman sinar bulan purnama. “Subhanallah, indahnya”, entah di daerah mana, sepertinya pinggiran Tegal Jateng atau Semarang.
 Kita pun memandangi laut yang terang diguyur sinar bulan. Dalam hati seakan tidak percaya dan bertanya “ngapain Fi?, lo yakin mau sampe puncak Semeru?, emang lo kuat?”. Ya, pertanyaan-pertanyaan seperti itu yang muncul beberapa kali saat di perjalanan.


Pagi hari menjelang. Aku masih di kereta. Lewati Madiun, lewati Kediri yang selama ini hanya ada dipikiranku dengan banyak cerita sejarah di kedua daerah itu. Di kejauhan tampak gunung Welirang yang seakan berkata “selamat jalan ke puncak Para Dewa, sampaikan peluk hangatku padanya”, percaya tidak percaya aku sedang menuju ke sana. Puncak Para Dewa yang disebut-sebut Dewa 19 dalam lagu mereka.
Jam 11.00 sampailah kita di stasiun Malang. Carter angkot menuju ke Pasar Tumpang. Tempat kita menyambung kembali transportasi kita menuju Ranu Pane, desa terakhir di kawasan Bromo Tengger menuju gunung Semeru.

Pasar Tumpang
Di sini kita dapat melengkapi kembali perbekalan yang mungkin belum kita punya. Pasar tradisional tapi sayangnya sudah berdiri di sana Alfamart sebagai saingannya. Cukup lama kita menunggu di sana. Sekitar 2jam. Sambil menunggu kesiapan mobil jeep yang akan antarkan ke Ranu Pane, kitapun berburu makanan tradisional. Sempat kita makan nasi yang mirip dengan nasi kucing jika kita berkunjung ke Jogja dan seitarnya. Perutku yang lapar nyaman sekali  menerima nasi hangat dengan gorengan tempe yag dimasak dengan kayu bakar. Jelas aromanya berbeda. Entah nasi  apa namanya itu aku lupa. Dari sini sudah terlihat di kejauhan sana puncak Mahameru yang menghembuskan asap dan pasir di ketinggian lebih dari 3676mdpl. Subhanallah cantiknya.

Setelah lebih kurang dua jam menunggu, berangkatlah kita menuju Pos Perizinan Pendakian. Yang aku ingat ada dua pos yang harus kita jambangi. Yang pertama Pos Taman Nasional Bromo Tenger Semeru secara umum. Di sana terdapat poster yang menggambarkan proses terbentuknya Gunung Bromo, Batok dan Semeru. Digambarkan di sana pada awalnya tiga gunung indah itu merupakan satu kesatuan pegunungan yang utuh. Subhanallah, bayangkan  jika ketinggian puncak Semeru (Mahameru) sekarang saja sudah mencapai 3676mdpl, dan merupakan puncak tertinggi di pulau Jawa, maka bisa jadi Mahameru saat itu adalah puncak tertinggi kedua di Nusantara, mengalahkan Rinjani di Lombok dan Kerinci Seblat di Sumatera. Sebelum meletus dan pecah menjadi tiga gunung Bromo, Batok dan Semeru, ketinggian gunung ini mencapai 4000mdpl. Bisa jadi didapati salju di atasnya seperti Jaya Wijaya di Papua. Subhanallah. Indah dan luar biasanya atap pulau Jawa.

Jeep yang kita tumpangi mulai meraung-raung keras. Satu persatu tanjakan ekstrem dilewatinya. Cukup dagdigdug hatiku khawatir jeep tidak kuat menopang beban lebih dari 5 kwintal. Ya,15 pendaki beserta tas-tas carier kami yang berat-berat. Jalan yang tidak rata,  aspal dan beton yang gompal disana-sini ditambah track pasir menambah berat lajunya jeep yang kami tumpangi. Kupikir Jeep mendaki sampai ketinggian lebih dari 700 mdpl. Buktinya di ketinggian ini kami dapat melihat lautan pasir gunung Bromo di sebelah kiri dan gagahnya puncak Mahameru gunung Semeru yang terus menghembuskan Wedus Gembel di sebelah kanan. Subhanallah Rruarr Biasa indahnya. Kalo kurang jelas silahkan putar kembali film 5cm saat menuju Ranu Pani,hehehe…

Setelah mendaki cukup tinggi dan menikmati ekstremnya perjalanan Offroad Jeep, kitapun mulai turun lewati desa-desa menuju Ranu Pani. Ranu Pani adalah desa terakhir sebelum kita memulai pendakian. Di sana terdapat danau luas yang indah sehingga disebutlah Ranu Pani. Disini kita kembali meminta izin untuk melakukan pendakian untuk kedua kalinya. Alhamdulillah kami diperkenankan untuk melakukan pendakian.Tidak jarang ada pula pendaki yang tidak diizinkan melakukan pendakian karena status Semeru meningkat.

Setelah repacking,  salat maghrib dan Isya, menyiapkan air untuk perjalanan, kemudian kami berdoa. Semoga pendakian kami dari awal hingga akhir berjalanan lancar. Semoga semua peserta pendakian diberikan kekuatan untuk mencapai puncak Mahameru kesehatan sempurna dan keselamatan dari marabahaya yang sewaktu-waktu dapat menimpa kami.

Dengan sisa enegi yang ada, aku langkahkan kaki menuju Ranu Kumbolo bersama peserta pendakian yang lain. Angin gunung yang sangat dinginpun segera menerpa wajah-wajah kami.”Brrrrrrrrrrrrr, dinginnya”, ini adalah pendakian keduaku bersama teman-teman Arkadia UIN Jakarta. Baru aja 1 jam perjalanan, aku sudah merasa letih dan mengantuk. Harus kuakui bahwa persiapan fisikku tidak ideal,hehehe. Sambil menahan dingin dan kantuk yang semakin berat menggelayut di kelopak mata, belasan kali itupun kakiku terantuk batu atau akar yang melintang di jalur pendakian. “Masyaallah, ngantuknya, enaknya sih kita istirahat tidur dan menunggu pagi, sehingga energi pulih dan jalur pendakian jelas terlihat.

Tepat jam 00.00, sampailah kita di Ranu Kumbolo 2200mdpl. Lokasi yang sangat indah di wilayah Gunung Semeru. Angin jauh lebih dingin dibanding saat di Ranu Pani segera menyerang menusuk-nusuk daging dan tulang-tulangku. Gerakan cepat harus diperagakan oleh kita semua demi menjaga suhu tubuh kami tetap hangat. Hipotermia adalah penyakit kedinginan mengerikan yang sering dialami para pendaki.”Masyaallah”, dinginnya seakan menampar-nampar wajahku. Tekanan udara disini begitu tinggi. Wajahku serasa diselimuti oleh balon tiup kemasan timah tipis yang biasa dimainkan oleh anak-anak. Cukup lama menunggu teman-teman mendirikan tenda, akupun segera berlindung di sebuah rumah yang sengaja didirikan sebagai shelter para pendaki.”Celaka”, di dalamnya telah berdiri dua buah tenda yang tidak memberikan ruang lagi untuk kita masuk. Alhamdulillah, masih ada celah di pojok Utara rumah yang muat buat 2orang . Segera aku menyelinap masuk dan berlindung dari dinginnya angin.”Maafkan aku tidak bisa membantu kalian mendirikan tenda teman-teman”, dalam hati ku bertanya “ Sebegitu lemahkah fisikku atau memang angin Ranu Kumbolo yang benar-benar gila dinginnya”,

Pagi itu, sekitar jam 01.00, aku masih berada di dalam rumah tidak permanen disamping tenda pendaki lain itu. Masih menahan dinginnya angin dingin Ranu Kumbolo yang membuat seluruh badanku bergidik. Tanpa tenda tanpa sleepingbag. Cerita ini adalah contoh yang tidak baik bagi pendaki yang ingin menjajal dinginnya Ranu Kumbolo Semeru. Terlebih kita berada di bulan Agustus yang dikenal saat dingin-dinginnya dibanding suhu di bulan lain khususnya di musim hujan. Nekad adalah istilah yang tepat buatku, pendaki yang belum menyiapkan perlengkapan pendakian dengan baik. Jika bukan pertolongan dari Allah pastinya aku sudah mati kedinginan di sini. Tanpa tenda, tanpa sleeping bag.
Jam 02.00, aku pun dibangunkan oleh salah seorang peserta lainnya dan diminta pindah ke tendanya. Alhamdulillah masih ada yang memperhatikan keberadaanku di luar sini. Dengan cukup sulit melangkah akupun pindah masuk tenda. Alhamdulillah, terasa lebih nyaman di dalam sini. Semakin bertumpuk semakin hangat,hehehe. Kalau di dalam sini, tanpa sleepingbagpun terasa lebih nyaman, karena suhu tubuh teman-teman berkumpul dan saling menguatkan.

“Diatas jam 2 suhu disini akan lebih dingin lagi”, seru teman di sampingku,”gila, segini aja sudah bikin kita kejang-kejang kedinginan”,sambutku,”kita siapkan mental dan yakini kita bisa melewatinya nanti, kita harus lawan rasa dingin itu, jangan dirasakan”tambahnya. Dan benar saja setelah jam 2 suhu di sini makin menggila. Jarang sekali peserta yang dapat tidur nyenyak. Beberapa teman memilih keluar melawan dinginnya pagi bbuta di Ranu Kumbolo dengan jogging untuk menambah panas suhu tubuh. Pagi buta itu di hiasi oleh kabut tipis yang hanya menutupi sebatas dengkul kita. Lagi lagi aku lupa apa nama kabut tersebut.
Subhanallah indahnya. Pagi itupun kupaksakan keluar bersama teman-teman untuk membuat api unggun dan berjoging ria melawan suhu ekstrem Ranu Kumbolo. Bintang-bintang serasa sangat dekat menyapaku, seringkali komet terlihat jelas hilir mudik di atas sana layaknya Meteor Garden,hehehe. Subhanallah. Pancaran sinar bulan tak kalah indahnya mengguyur tenda-tenda kami dan Ranu Kumbolo yang semakin cantik memantulkan cahayanya. Dalam hati berbisik “Where are We?, dimana sesungguhnya kita?, serasa di dunia lain dan bukan di bumi”, itulah mengapa kegiatan pendakian gunung sangat digandrungi banyak orang. Apalagi kalau bukan  untuk mendapatkan atau merasakan  sensasi yang luar biasa yang  sangat berbeda dibanding perjalanan-perjalanan  lainnya.
Akhirnya kamipun menyerah melawan dinginnya Ranu Kumbolo dengan membuat api unggun dan jogging. Kibarkan bendera putih dan segera kembali ke tenda menunggu matahari terbit.”Bismikallahumma Ahya Wabismika Amuut”,zzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz
“Fi,fi,bangun fi,salat subuh, jam 6 neh, sunrisenya hampir keluar”,seorang kawan membangunkanku untuk salat subuh. Berat sekali badan ini untuk bangkit dan menyentuh air Ranu Kumbolo yang pastinya suangat duingin.”Alhamdulillahilladzi hyanaa Ba’da Maa Amaatanaa Wailaihinnusyuur”,akupun bangkit dan keluar dari tenda segera menuju Ranu Kumbolo. “Subhanallah”,sudah cukup terang disini. Matahari muncul persis di antara dua bukit di arah timur Ranu Kumbolo, persis lukisan yang sering kita buat saat SD. Sunrise, danau Ranu Kumbolo dengan hamparan kabut tipis yang datang dan pergi, Subhanallah.
"فبأي ألاءربكما تكذبان


Selesai salat kamipun berkeliling menikmati indahnya Ranu Kumbolo. Seluruh area yang tadi malam tak terlihat sekarang dapat kami lihat dan nikmati dengan sejelas-jelasnya. Subhanallah indahnya. Pantas saja banyak orang yang senang berlama-lama di sini tanpa harus mencapai Mahameru. Mungkin ini bagian dari cobaannya. Jika terlena dengan keindahan Ranu Kumbolo, bisa jadi malaslah kita pada tujuan utamanya, yaitu silaturrahim ke Mahameru.
Dua hari dua malam kami habiskan di sini. Panitia benar-benar ingin melepas kangen beratnya pada danau indah ini. Bisa jadi tujuannya adalah adaptasi dan persiapan energi yang cukup untuk menghadapi tantangan yang sangat berat menuju Mahameru.

Dan harinya pun tiba. Setelah packing, foto-foto di Ranu Kumbolo kitapun berdoa. “Bismillahirramanirrahim, BIssa!”,Tanjakan Cinta adalah nama trek yang membelah dua bukit menuju Oro-oro ombo. Terlihat  tidak begitu tinggi tapi setelah dijalani ternyata sangat menguras tenaga. Mitosnya jika berhasil terus melangkah tanpa melihat kebawah jodoh orang yang menjalaninya akan cepat datang.

Oro-oro Ombho adalah area tumbuhnya banyak alang-alang setinggi orang dewasa yang sangat indah pastinya. Banyak yang menyebutnya bukit Teletubies.

 Setelah itu kita dihadapkan pada hutan cemara yang mempunyai banyak kesamaan di tiap jalurnya. Tak heran banyak pendaki tersesat di sini, jika tidak salah daerah ini disebut Cemoro Kandang.
Melewati Cemoro Kandang sampailah kita di suatu tempat terbuka. Di sana kita dapat memandang langsung kea rah gunung Semeru yang tadinya tertutup oleh bukit-bukit sekitarnya. Jam 4 sore sampailah kita di Kali Mati. Disebut Kali Mati bisa jadi karena ia adalah area aliran air hujan yang mengalir dari puncak Mahameru. Satu lagi yang perlu disebut adalah Sumber Mani. 500 meter turun kea rah barat daya Kali Mati kita akan menjumpainya. Disini kita dapat mengisi air secukupnya untuk camp di Arcopodo. Subhanallah, entah dari mana air itu bersumber. Baiknya kita lebih dari tiga orang untuk turun mengambil air di sini karena tidak jarang macan pohon gunung Semeru dan hewan liar yang lain juga memanfaatkan sumber air ini menjelang malam.

Sore menjelang malam itu terasa mencekam, karena akupun ikut turun mengambil air di Sumber Mani. Alhamdulillah kami bertujuh tidak menjumpai hal yang tidak diharapkan. Jelang malam suhu di sini bertambah dingin. Tekanan udara bertambah tinggi. Setiap semilir angin yang bertiup adalah batang-batang ranting yang seakan menggores wajah-wajahkami. Cukup perih jika wajah kita tidak tertutup oleh slayer ataupun kain yang lainnya. Termasuk menggunakan kacamata sangatlah dianjurkan. Antisipasi pasir Semeru yang kapan saja dapat masuk ke mata kita.

Betapa sekali lagi kita harus memperhatikan nutrisi yang terkandung dalam makanan yang kita makan. Saat itu kita harus melawan ego kita yang enggan makan padahal tubuh kita sangat membutuhkannya. Saat itu pula aku yang awam tentang nutrisi itu cukup membawa pilus sebagai lauk.”Astaghfirullahal’azhiim,ampuni aku yang telah zhalim terhadap tubuhku ya Allah”


Setelah salat Maghrib dan makan malam dengan pilus kitapun repacking dan berdoa. Semoga diberi kelancaran, keselamatan dan kekuatan agar dapat sampai di puncak Mahameru. Amin. Kitapun mulai bergerak meninggalkan Kali Mati menuju Tenggara dan kemudia berbelok ke Selatan menuju punggungan Semeru. Di sini semuanya bermula. Bukan lagi jalur datar atau menurun. Semuanya full menanjak dan debu dari pasir Semeru. Jalur kecil di punggungan menuju Arcopodo. Semuanya mulai terlihat, semakin menanjak tinggi dan makin tinggi. Angin yang bertiup menghantam tubuh-tubuh kamipun semakin keras. Subhanallah. Bulan masih menemani kami sejauh ini. Dikejauhan terlihat lampu-lampu rumah berkelap-kelip. Pananjakan, Gunung Bromo, Batok, bahkan Welirang.

Pukul 11.00, tibalah kami di Arcopodo. Satu hal yang ingin kukomentari tentang film 5cm, saat scene di  Arcopodo sangat tidak sesuai dengan yang pernah aku rasakan. Kenapa di scene  Arcopodo digambarkan sebagai tempat yang damai sekali tanpa hembusan angin sedikitpun. Padahal karena ketinggiannya Arcopodo adalah tempat yang sangat luarbiasa dengan hantaman-hantaman angin yang keras pula. Tapi mari kita positif thingking bisa jadi pada waktu shooting memang mereka meminta bantuan Avatar The Air Bender untuk mengendalikannya,hehehe.

Di sini kita kembali mendirikan tenda makan dan istirahat. Paling lambat jam 01.00 kita harus kembali bangun dan melanjutkan pendakian menuju Mahameru. Sebisa mungkin kupejamkan mata ini berharap tambahan energy dari istirahat singkatku. Hanya jaket dan kain sarung ini perisaiku menghadang angin Arcopodo. Alhamdulillah jaket pinjaman Opik sobatku ini cukup handal menghadang angin yang terus menerus menghantam.”Bismikallahumma Ahya Wabismika Amuut, MUdahkan Ya Allah, Mudahkan, sejauh ini hamba melangkah, adalah kerugian besar jika tidak sampai ke Mahameru Ciptaan-MU, MUdahkan Ya Allah Mudahkan, kuyakin ini akan menjadi cerita syukurku pada-MU,Amin!”
Pukul 01.00 kami pun bedoa dan siap melanjutkan perjuangan. “MUdahkan Ya Allah”. Di atas Arcopodo ini, di sepanjang jalur pendakian menuju gunungan pasir Semeru tertanam lebih dari belasan Arca atau batu Nisan sebagai rasa cinta kuatnya persaudaraan antar pendaki yang ditinggal pergi temannya yang sama-sama pendaki untuk selamanya. Subhanallah suasana di sini semakin kental dengan nuansa mistis. Kental, kental sekali. Di sini juga terdapat ritual para pendaki yang memberi perlengkapan pendakian seperti sandal dll yang dilemparkan ke suatu jurang di daerah Kelik namanya. Nama itu diambil dari nama pendaki yang pernah mati di sana.
Dibanding punggungan di gunung-gunung lainnya menuju puncak, punggungan ini sangatlah sempit dan rapuh karena dominasi akar pohon dan pasir. Terlebih banyaknya nisan membuat pendaki sulit melangkah. Sekali lagi tentang film 5cm, sangat disayangkan sekali tidak mengambil latar tersebut.
Di batas vegetasi ini sebagian orang yang mempunyai keahlian batin, dapat melihat pintu yang sangat besar menuju puncak Mahameru Puncak Para Dewa.  Dari sini mulailah kita bergelut bercumbu dengan pasir Semeru. Mencapai puncak Mahameru dari sini membutuhkan waktu lebih dari 4jam. Betapa tidak tiap jengkal pasir yang kita injak akan membawa kembali kita turun lebih jauh dari capaian jengkal kita. Tiga kali menapak, dua kali kita akan turun, bahkan lebih. Di sinilah kekuatan dan kesabaran kita benar-benar diuji. Pastikan buang jauh-jauh kesombongan-kesombngan kita, serahkan semua kepada Allah swt Yang Maha Besar dan Perkasa.
Pasir-pasir dan batu-batu yang berjatuhan dari ataspun harus juga menjadi perhatian kita. Pasir-pasir dapat membutakan mata-mata kita, dan batu-batu gunung yang menimpa dapat memecahkan kepala-kepala atau setidaknya melukai bagian tubuh kita. Koordinasi antar pendaki sangat diperlukan. Peraturannya adalah jika ada yang pendaki yang menginjak batu dan batu itu meluncur kebawah, ia harus segera berteriak “Awas batu!”, sehingga mengurangi resiko temannya yang berada di bawahnya tertimpa batu tersebut. Di sini kita harus juga pintar memilih pijakan, batu vulkanik yang menyerupai batu gamping yang terlihat kokoh dan kuat berwarna putih tidak jarang sangat rapuh dan membuat kita lepas dari pijakan kita.

Adzan subuh tidak dapat terdengar dari sini. Tetapi jam telah menunjukkan pukul 05.00, lebih dari 4jam kita telah berjuang. Hampir habis energiku, belum juga juga lampaui setengah dari gunungan pasir ini. Masyaallah, akhirnya aku pun tayammum, salat subuh dan kembali meminta kekuatan kepada-Nya. “Kuatkan Ya Allah, Kuatkan!,” tak terasa akupun tertidur di tengah hantaman angin kencang dan dinginnya Semeru.  

Cantiknya bulan purnama yang dihiasi wedus Gembel Semeru tak terlihat lagi oleh mataku. Some One Hug Me. Akhirnya aku bangkit kembali. Ya sepertinya aku harus mengucap banyak terimakasih atas motivasi dan kehangatannya aku dapat kembali bangkit. Jurus terakhir adalah meneguk Krating Daeng. Dan kantukpun sedikit-demi sedikit hilang. Aku kembali berjuang sampai puncak Mahameru. Alhamdulillah,jam 07.00, aku dapat menginjakkan kaki di atap pulau Jawa 3676mdpl. Suatu kebahagiaan dapat menyaksikan langsung peristiwa alam yang laur biasa. Dari sini kita dapat dengan jelas menyaksikan Wedus Gembel yang dihembuskan oleh kawah Semeru yang melambung lebih dari 100 meter tingginya. Dan peristiwa itu selalu terulang setiap 15 menit sekali.

Tidak lebih dari setengah jam setelah selebrasi sujud syukur dan foto-foto kamipun turun. Keberadaan kami di atas sii tidak boleh lebih di atas jam 9, karena angin akan berubah arah ke Utara dan membawa Wedus Gembel Semeru menuju jalur naik dan turunnya pendaki termasuk Arcopodo dan KaliMati. Tidak sedikit pendaki yang mati karena terkena Wedus Gembel Semeru seperti halnya Soe Hok Gie.



Berkejaran dengan waktu kitapun segera menuju Arcopodo dan seterusnya ke Ranu Kumbolo. Lagi-lagi suatu keajaiban yang terjadi di sini. Di Arcopodo. Beberapa teman yang sudah tidak sanggup meneruskan perjalanan turun tertahan di Arcopodo. Tenda belum sempat di lipat dan mereka tertidur disana, termasuk aku. Teman-teman yang lain sudah berada di KaliMati menuju Ranu Kumbolo. Di atas jam yang telah ditentukan sebagai jam berbahaya kami masih berada di Arcopodo dalam keadaan sehat. Alhamdulillah. Sangat berat untukku berkejaran dengan waktu menuruni puncak Mahameru lalu Arcopodo dengan kondisi kaki yang lecet. Celakanya lagi aku tidak membawa sandal. Jadilah tanpa alas kaki menginjak kerikil-kerikil tajam Semeru dengan beban di pundak. Masyaallah.

Panitia memutuskan menginap semalam lagi di Ranu Kumbolo. Artinya tiga malam sudah kita menginap di Ranu Kumbolo. Di sini kupuaskan hobiku memancing. Alhamdulillah 5 ekor anak ikan emas kecil terkena kailku,hehehe. Salah seorang teman yang beruntung berhasil mendapat induknya. Jadilah malam itu makan dengan menu ikan bakar. Subhanallah, Alhamdulillah.
Selamat tinggal Ranu Kumbolo selamat tinggal Semeru. Kitapun kembali menyusuri bukit-bukit menuju Ranu Pani. Kembali Offroad sampai pasar Tumpang kemudian menuju UMM. Menginap dan silaturrahmi dengan Mapala di sana. Keesokan harinya barulah kita kembali ke Jakarta.

Dengan kesan-kesan yang sangat luarbiasa di Semeru, syukurku penulisan skripsi rampung tak lama setelah pendakian Agustus 2004. Maret 2005 akupun resmi menyandang S.Th.I. Terimakasih buat semuanya, terimakasih buat Arkadia, tanpa kawan-kawan mungkin aku belum bisa sampai kea tap pulau Jawa Mahameu 3676mdpl. Alhamdulillahirabbil ‘Alamin.
(luthfi mulyadi, 02 April 2013)

Senin, 29 April 2013

Gunung Ciremai3078mdpl


Ciremai&Me

Add caption




Cerita ini hampir saja tak kutulis dalam kumpulan cerita lainnya. Lagi-lagi tentang pendakian gunung. Entah kenapa, semangatku mulai pudar untuk menuliskan cerita-cerita seperti ini. 

Tidak seperti tahun lalu. Sebelumnya ingin sekali aku membukukan semua puisi dan cerita-ceritaku. Sayang sekali jika tidak kutulis, walaupun hasilnya mungkin hanya dua paragraf. Hitung-hitung terus berlatih menulis. Kali ini tentang gunung tertinggi di Jawa Barat. Ciremai, dengan ketinggian mencapai 3078mdpl. Subhanallah.

Kesempatan pertama menjajal gunung ini terlaksana pada tahun 2004 bersama teman-teman Opik dari Politeknik Negeri UI. Subhanallah, luar biasanya berkumpul dengan anak-anak berotak encer seperti mereka. Nyaman sekali. Bahkan materi-materi humor mereka sangat berkualitas. Menunjukkan kualitas isi kepala mereka.

Setelah tunaikan salat ‘Ashar berjama’ah di masjid kampus, kamipun menuju jalan baru yang menghubungkan pasar Rebo dan terminal Kampung Rambutan. Tak perlu naik angkot. Jarak dari kampus kesana hanya sekitar 200meter. 

1jam menunggu, bus tak kunjung datang. Bus kea rah Cirebon, Kuningan dan sekitarnya memang sangat jarang lewat jalan ini. Kebanyakan bus-bus jurusan jalur selatan mendominasi. Akhirnya kitapun salat maghrib di musholla samping jalan.

Tak lama setelah kita salat maghrib buspun datang. Bus Dedy Jaya jurusan  Cirebon. Setelah tiga jam perjalanan  bus mogok di jalan tol. 1jam lebih kita menunggu perbaikannya. 

Cukup khawatir saat itu, karena keterlambatan  pasti akan mengganggu schedule. Aku masih terikat kontrak kerja dengan Media Track Sistem Informasi, dan hanya diberikan waktu 2hari untuk perjalanan ini. 

Sambil menunggu, kita pun menikmati suasana pinggir jalan tol. Waktu itu sekita pukul 21.00, jalan tol cukup sepi. Tidak terlalu banyak kendaraan yang melintas. Sekitar pukul 22.00, bus dapat melaju kembali. Alhamdulillah.

Pukul 01.00 kita tiba di Kuningan. Udara dingin pegunungan segera menyergap.Dari jalan utama, angkot antar kita sampai Linggarjati. Desa bersejarah ini adalah saksi sejarah perjanjian Linggarjati antara Belanda dan Indonesia. 

Sekarang museum telah dibangun di sini guna memperingati peristiwa tersebut .  Malam itu cerah sekali.  Sempurna dengan pancaran sinar bulan. Gunung Ciremai dengan ketinggiannya  seakan menyapa kita 

“selamat datang tamu-tamuku yang budiman, semoga kalian menikmati perjalanan menuju puncakku”. 

Subhanallah cantiknya. Ketinggiannya seakan tak terbatas hingga menembus langit.  Ibarat tembok beton yang sangat tinggi, khawatir kami tertimpa jika ia roboh.

 Pantas saja gunung ini menyandang predikat tertinggi di Jawa Barat, tak mampu lagi aku menggambarkan keindahan malam itu diselingi dengan tawa canda teman-teman. Bayangan-bayangan indah mendakinyapun telah terbersit di kepala kami. Pasti indah dan nyaman sekali berdiri di ketinggian itu. Subhanallah.

Malam itu kami tidak langsung mendaki, karena pos pendakian telah tutup. Kami harus bersabar menunggu hingga pagi hari. Jam menunjukkan pukul  03.00. Tak lama lagi subuh datang. Kamipun beristirahat di musholla seberang pos daftar pendakian. Menikmati  dan beradaptasi dengan dinginnya kaki gunung Ciremai sebelum kepuncaknya.

Pukul 07.30, agak siang pos pendaftaran dibuka. Itupun setelah kami susul ke rumah tempat tinggalnya. Jika tidak, entah kapan kami mulai mendaki.

 Perjalananpun dimulai. Bismillahirrahmanirrahim. Susuri jalan aspal penghabisan menuju sawah dan ladang. Subhanallah dari balik rimbunan pohon puncak gunung Ciremai mulai terlihat membuat kami terus menengadah terus menikmati cantiknya.

 Tak terasa kaki kami beberapa kali terantuk batu karena terpesona melihatnya. Subhanallah. Menuju penghabisan aspal menuju persawahan dan ladang yang lebih tinggi, kami melewati rumah-rumah warga dengan ternak sapi, kerbau dan kambingnya. 

Beberapa kali kami berpapasan dengan segerombolan kerbau dan sapi yang tidak terikat. Ada kekhawatiran jika mereka mengamuk dan tiba-tiba menyeruduk kami,hehehe.

Kami berjalan kea rah selatan menuju gunung Ciremai,sawah di sisi kanan terhampar luas hijau menyejukkan mata. Udara pagi pegunungan sungguh membuat kami ingin setiap hari berada di sini. 

Ladang jagung hiasi perjalanan kami menuju Cibunar. Pos pertama di ketinggian 750mdpl. Di sanalah pos terakhir jika tidak ingin repot mendapatkan air di pos Condang Amis. 2jam dari Cibunar sampailah Condang Amis. Di sini terdapat gubuk yang penghuninya menjual beberapa makanan bagi para pendaki. 

Dari sini juga menurut beberapa orang pendaki ada sumber air di sebelah timur menuruni semak belukar. Dari Condang Amis lampaui pos di atasnya kami sempat kebingungan menetukan jalur mana yang benar. 

Cukup rimbun. Beberapa orang juga telah membuka jalur baru dengan kemiringan yang ekstrem. Entah pertimbangan apa kami lalui jalur baru itu dan Alhamdulillah sampai di pos berikutnya. Lampaui Kuburan Kuda, Tanjakan Seruni, Tanjakan Asoy,Bapak Tere, Batu Lingga. Di sini aku khususnya merasakan keletihan yang luar biasa. Tak hentinya Opik menggodaku

“Massa alumni Semeru gak kuat,hehehehe…!”,

mendengar itu akupun memaksakan diri karena  gengsi. Tak kugubris, tapi ingin kubuktikan bahwa aku dengan rutinitas  abnormal – bekerja saat jam istirahat, pukul 03.00 – 11.00 di Media Track waktu itu masih kuat mencapai puncak Ciremai.

 Padahal bahaya sekali tindakan seperti ini.Hehehe, dasar darah muda. Di pos Bapak Tere kamipun sempat melihat Elang Jawa kebanggaan Jawa Barat. Burung gagah ini sebarannya sudah sangat memperihatinkan.  Data mencatat Elang ini tersisa di hutan Gunung Slamet, Salak, Ciremai, Gede dan Pangrango.

Kenapa Pos ini dinamakan Bapak Tere pun tak lepas dari diskusi renyah kami. Selanjutnya lampaui Sangga Buana 1, Sangga Buana2 dengan sisa-sisa tenaga yang nyaris habis. Khususnya terjadi padaku.

“Masyaallah, sumpah, capeknya luar biasa”bisikku.

Hampir tidak ada lagi kekuatan untuk berdiri apalagi berjalanan. Kupaksakan dan paksakan karena gengsi. Mata ingin sekali kupejamkan barang 10menit. Tapi teman-teman terus memaksaku melangkah.

“Ampuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuun”

bisikku karena tak kuat lagi berteriak. Hampir tiap  3menit aku tertidur dengan mudahnya. Seakan pendakian ini adalah mimpi indah.

“‘Woooiiiiiiiiii banguuuuuuuuuuuuuuuuuuuun”

teriak teman-teman. Teganya mereka padaku yang lemah ini,hehehe.

Pukul 17.20, sampailah kita di Pangasinan 2700mdpl. Pos tertinggi sebelum puncak Ciremai. Subhanallah cantik sekali pemandangan di sini. Garis pantai terlihat di sebelah utara. Api dari cerobong sebuah tambang minyak pun terlihat jelas menyala-nyala merah.

  Subhanallah. Suhu di sini lebih dingin dibanding di bawah pastinya. Perih rasanya mata dan kulit pipiku ditiup oleh angin di ketinggian ini.

“Brrrrrrrrrrrrrrrrr ddddinginnyaaaaaaaaaaa!, ALLAHU AKBAR!”,

Takbir guna melawan dingin. Menjelang malam kita harus berjuang melawan dinginnya Pangasinan. Cepat dirikan tenda, cepat masak mie, cepat makan dan istirahat. 

Sering  kali di ketinggian ini aku merasa berada di dunia lain karena tekanan udara yang  sangat kuat dan dingin.Tenda isi empat orang itupun terisi enam orang. Lebih banyak lebih hangat,hehehe. 

Alhamdulillah malam itu cukup cerah. Beberapa  teman mengambil  tempat di luar tenda untuk makan. Sangat tidak nyaman makan berdesak-desakan, meskipun juga  sangat dingin di luar sini. 

Subhanallah indahnya malam ini. Gugusan bintang berkelapkelip seakan dekat sekali di atas kepala kami. Tak jarang meteor-meteor hilir mudik di depan pandangan kami. Mirip sekali Meteor Garden F4,hehehe. Subhanallah. 

Jika kuat akan sangat indah nikmati malam ini tidur di luar tenda. Sayangnya kami belum memiliki perlengkapan pendakian yang memadai seperti sleepingbag. Bismikallahumma Ahya Wabismika Amuut.

Alhamdulillahilladzi Ahyaanaa Ba’da Maa Amaatanaa Wa Ilaihinnusyuur. 

Subhanallah. Segarnya udara pagi  hari ini. Terlihat enam tenda berdiri di Pangasinan tadi malam bersama kami. Pukul 05.30, mereka terlihat sigap sekali menapaki punggungan terakhir menuju puncak. 

Pagi itu aku tak lagi punya energi untuk menggapai puncak, padahal puncak sudah sangat dekat. Pikirku akan lebih baik hemat gunakan energi untuk turun dalam keadaan sangat lemah seperti ini. 

Paha, dengkul dan betisku serasa tanpa tulang yang menopangnya. Keadaan ini benar-benar mengerikan. Untuk turun saja sulit apalagi naik.  Aku tak ingin mengambil resiko. Saat ini aku harus mengakui bahwa staminakulah yang terlemah. 

Salutku pada teman-teman.  Sepertinya mereka masih banyak memiliki energi, tetapi demi solidaritas mereka tidak melanjutkan ke puncak. Subhanallah.

Repacking, masak, makan dan kitapun turun. Dengan penuh perjuangan aku berusaha menuruni satu persatu undakan, akar,batu, yang telah kulewati kemarin. 

Selamat tinggal Pangasinan, semoga kita dapat bersua kembali. Amiin. Tekadku akan kembali lagi ke sini dan menginjakkan kakiku di puncak Ciremai. Terus merasakan hal yang sama pada paha, lutut, betisku yang lemah. Tak jarang aku menjatuhkan diri di rerumputan karena tidak mampu lagi melangkah.

 Sangga Buana2, SanggaBuana1, Bapak Tere, Tanjakan Seruni, Kuburan Kuda, Condang Amis satu persatu terlewati. 
Pandanganku semakin gelap. Dan….”ZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZ”

“Woiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii bangun, gimana sih sarjana Semeru?,hehehe”

Lagi-lagi Opik menggodaku. Masih untung mereka tidak meninggalkanku sendirian tertidur di jalur pendakian. Dan lagi-lagi….”ZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZ”

“Fi, bangun fi, dikit lagi hujan, dikit lagi kita sampai di Cibunar kok”

Mereka bangunkanku untuk ke sekian kalinya.

“terimakasih teman-teman”, Bisikku dalam hati.

Sekitar pukul 16.00, kitapun sampai di Pos perizinan pendakian. Laporan, bersih-bersih, segera kami menuju ke Jakarta.

Kesempatan kedua

Alhamdulillah, setelah diterima oleh Pak Lukman Kepala MTs.N1 Jakarta sebagai tenaga pengajar di sana akupun resign dari Media Track. 

Tidak kuat lagi fisik ini terus mengejar rupiah di waktu yang tidak normal. Kembali teringat tekadku untuk kembali ke puncak tertinggi Jawa Barat Ciremai. 25 Desember 2005, setelah beberapa kali melakukan lari pagi demi meningkatkan stamina, aku merasa lebih siap menghadapi medan gunung Ciremai, mencapai puncaknya. 

Bismillahirrahmanirrahim. Pagi itu Opik antar aku menuju  tempat pemberhentian bus  Luragung mampang. Ia tidak ada jadual kuliah hari ini. Jarang sekali aku berangkat untuk mendaki gunung pada pagi hari. Biasanya aku berangkat sore hari menjelang malam.

“Sukses sob, sorry gue gak bisa nemenin lo!”

Kitapun berpelukan. Bersalaman erat saling menguatkan.

“Gak apa-apa, di sana pasti banyak pendaki  yang nemenin gue kok,hehehe”,

Terus  aku yakinkan diriku akan dapat teman di sana. Aku tidak boleh tergantung dengan siapapun. Settingnya mirip sekali dengan keberangkatanku ke gunung Slamet jauh sesudahnya. 

Pagi hari gerimis mengundang Luragung telah meninggalkan mampang. Dengan demikian aku harus menuju terminal Pulo Gadung. Insyaallah hingga malam hari terminal tersebut selalu memberangkatkan banyak bus menuju Cirebon dan sekitarnya. 

Luragungpun berangkat meninggalkan terminal sekitar pukul 10.00  wib Hujan menghiasi perjalananku hingga Cirebon. Jujur ada kekhawatiran rencanaku tidak akan berjalan lancar, tetapi tekadku tuk sampai puncak Ciremai tak tergoyahkan hanya oleh hujan.

Pukul  18.00 Luragung antarku sampai gerbang desa Linggarjati. Alhamdulillah. Sudah sesore ini hujan pula. Aku coba untuk terus tenang dan positif thingking. Sedikit berlari menghampiri pos ojek yang kosong untuk berteduh. 

Tidak ada lagi ojek. Tidak ada lagi angkot yang bisa antarku menuju pos pendaftaran. Gerimis terus mengguyur wilayah ini. Angin gunung menyapaku lembut. Berbeda sekali saat aku berkunjung untuk pertama kali. Ciremai terlihat jelas sekali dengan ketinggiannya seakan mengucap selamat datang. 

Sore hari menjelang malam dengan tak kulihat wajah cantik Ciremai yang menawan. Gunakan raincoat kumulai berjalan menuju pos pendaftaran 2km jauhnya. 

Bulukudukku mulai berdiri saat melewati pohon-pohon bambu kuning tinggi di samping kanan.

“gillaaaaaaaaa, lo emang gilaaaaa fi sendirian di tempat seperti ini”,

Bisikku memberanikan diri. Mulutku mulai komat-kamit membaca dzikir yang kubisa. Langkahpun terasa berat di sore hari menjelang malam itu. Setengah jam kemudian sampailah aku di pos pendaftaran. Alhamdulillah saat itu pos sedang dijaga oleh beberapa orang. 

“Assalamu’alaikum”, segera ku  sapa mereka tak mau buang waktuku.

“ Wa’alaikum salam  , sendiri kang?”,Tanya mereka

“iya neh kang, ada yang naik?

“lima orang dah naik dari tadi pagi kang”

“Alhamdulillah, setidaknya aku tidak sendiri di ratusan hektar luas gunung Ciremai”,bisikku

“Ok, terimakasih ya!”, segera kutinggalkan pos

Malam 19.00 wib, kuputuskan bermalam di warung kang Rewok sebelumCibunar 750mdpl. Terlalu riskan menembus lebatnya hutan Ciremai di kegelapan malam sendirian pula. Alhamdulillah sinyal cukup bagus di sini. 

Sms ke  teman-teman di Jakarta cukup mengusir sepiku yang tidur sendirian di bale kang Rewok. Suara jangkrik ladang jagung temaniku pula hingga fajar menjelang. Bismikallahumma Ahya Wa Bismika Amuut.

Kusortir kembali barang-barang yang akan memberatkanku menuju puncak Ciremai. Uniknya aku membawa tenda pramuka isi dua orang yang dibelikan ayah saat SD demi meringankan beban. 

Betapa yakinnya aku dapat melawan dingin Pangasinan di musim hujan akhir tahun ini dengan tenda pramuka. Tak lupa aku juga sangat berterimakasih pada orang yang telah memberiku jaket tebal orange yang telah antar aku ke banyak puncak gunung, khususnya Ciremai 2005. Juga sahabatku Harry Nurdi yang telah meminjamkan celananya.

“Masyaallah nekatnya”, kenangku saat ini.

Setelah siap semua termasuk mengisi penuh dirigenku akupun berdoa.

“Bismillahirrahmanirrahim, Allahumma Ya Muyassir Yassir Wa Ya Musahhil Sahhil, Wa Ya Mudabbir Dabbir, Sahhil ‘Alayna Kulla ‘Asiiir, Bijahikal basyiir Annadziir, Allahumma Ya Daafi’al Bala Ya Allah Wa Yaa Daa’fial Bala Ya Rahman Wa Yaa Daafi’al Bala Ya Rahiim, Idfa’ ‘Annal Bala Wal Ghola Wal Waba, Amiin”

Lampaui Cibunar, ladang-ladang jagung dengan hiasan batu-batu vulkanik besar. Sampai aku di persimpangan membingungkan. Terlanjur kupilih jalur ladang pisang yang semakin membingungkan. 

Sangat malas aku kembali ke persimpangan tadi. Seharusnya memang aku memilih jalur kiri. Terus kutelusuri  dengan keraguan-keraguan. Satu sisi sangat menantang mencoba jalur yang biasa di gunakan beberapa petani pisang ini. Pikirku dimana ada ladang di sana ada jalan menuju hutan. 

Setelah 3jam berjalan dengan sedikit keraguan menembus alang-alang yang cukup rimbun, akupun bertemu sekelompok pendaki dari Tangerang. Sujud syukurku temukan mereka.

“Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah, darimana bang?”, 

ekspresikan kebahagiaanku merekapun terheran-heran melihat ekspresiku yang sangat gembira seperti temukan kembali harapan hidup.

“dari Tangerang neh, abang darimana?”
“Mampang Jakarta Selatan”
“Sendirian aja bang?”
“Iya neh, temen-temen lagi pada sibuk”,

sering bingung menjawab pertanyaan seperti ini jika memang hanya berangkat sendiri. Terkesan individual dan tidak memiliki teman.

“Gila lo bang, sendirian ke sini, kalo gue mah gak berani”,

Tanggap mereka. Sering sekali tanggapannya seperti ini. Padahal bukan maksudku pergi sendirian. Usahaku sudah cukup maksimal untuk mengajak teman untuk menemaniku.

“sebenarnya gue juga takut, abis gimana, teman-teman lagi pada sibuk. Gue yakin aja bakal ketemu kalian di sini,ternyata benar kan, hehehe,….terimakasih ya, gue gabung pasukan lo padenih”

“santai aja bang, pokoke kita bareng-bareng dah”

Dan sejak itu kitapun memasuki hutan lebih dalam lagi bersama-sama. Lampaui  Condang Amis hujanpun mengiringi. Kuburan Kuda, Seruni, Asoy, Bapak Tere, Batu Lingga, hujan semakin deras. Kami memutuskan beristirahat sejenak. Jam menunjukkan pukul 15.00

“Gimana bang Fi, kayanya kita rehat camp disini neh, ada anggota kita yang gak kuat lanjut”

“kayanya gue lanjut Qy, tanggung, mending kita cam di Pangasinan aja. Di sini masih terlalu jauh dari puncak. Kalo emang temen camp di sini, gue minta izin duluan deh, gue pengen banget sampe puncak. Tahun kemaren gue dah coba tapi gak sampe, mudah-mudahan sekarang gue bisa sampe”

Merekapun berdiskusi. Hujan deras masih menguji kesungguhan kita mencapai puncak.

“OK bang Fi, kita ikut ke Pangasinan, tapi pelan-pelan ya!, licin neh”
“Ok, pastinya. Bismillahirrahmanirrahim, Allahu Akbar!”,

akupun bertakbir agar mendapat semangat dan energy baru. Perlahan pasti lampaui SanggaBuana1, Sanggabuana2, Pangasinan hujan terus mengguyur kami. Pukul 17.30 kita tiba di Pangasinan. 

Alhamdulillah, hujan pun  mulai reda. Alam memberi waktu untuk kami mendirikan tenda. Berkejaran dengan matahari terbenam dirikan tenda, nyalakan lampu badai, masak air panas. 

Agak sulit menemukan posisi yang tepat untuk mengikatkan tali rapiah di tanah ataupun pohon kecil yang tumbuh di Pangasinan. Maklum tenda pramuka. Beberapa teman geleng-geleng kepala melihatku dirikan tenda pramuka kecil. Masyaallah.

Untung sekali aku bertemu mereka. Malam itu kita makan dengan nasi hangat dan teri kacang kesukaanku. Subhanallah, nikmatnya maknyus!. Tak lama demi memprioritaskan kekuatan yang maksimal mencapai puncak esok pagi, kita langsung memejamkan mata tanpa menikmati malam hari di luar tenda. Bismikallahumma Ahya Wa Amuut!


“Hoam, Alhamdulillahilladzi Ahyanaa Ba’da Maa Amaatana Wailaihin Nusyuur”

Jam menunjukkan pukul 05.00 pagi. Alarm HP bangunkanku dari lelapnya  tidur setelah berjam-jam bergelut dengan medan menuju Pangasinan disertai hujan deras. 

Segera salat subuh. Mendung yang sejak  kemarin menutupi wilayah Kuningan dan sekitarnya membuat pagi ini terlihat masih gelap. Sedikit sekali berkas cahaya kuning kemerahan yang sering terlihat di pagi hari di ufuk timur menjelang sunrise saat itu. Bukan cuaca yang ideal untuk pendakian. Membuat kami malas melanjutkan perjuangan menuju puncak.

Segera bangunkan teman-teman dari Tangerang. Coky, Yudhi,Ucok dan aku pastinya yang siap melanjutkan pendakian menuju puncak. 2teman dari Tangerang memutuskan istirahat karena kelelahan. Tidak ada lagi yang lakukan summit attack pagi itu. Hanya kami berempat.

“Bismillahirahmanirrahim”,

kembali kami berdoa semoga diberi keselamatan dan kemudahan sampai di atas. Lampu-lampu senter sudah mulai di nyalakan. Dan kami pun mulai menuruni cerukan Pangasinan menuju jalur utama menuju puncak. 

Pohon-pohon cantigi  dan  Edelweis setinggi 2meter hiasi perjalanan kami menuju puncak. Bunganya sudah mulai mekar. Kupetik beberapa untuk kekasihku tersayang di Jakarta. 

Mendapatkan Edelweis Ciremai terasa sangat berarti mengingat perjalanan sampai titik ini tidaklah mudah. Terlebih staminaku yang tidak terlalu prima. Alhamdulillah. Aku sudah sampai sejauh ini. Di titik ini antara Pangasinan dan puncak Ciremai. 

Terlihat kembali garis pantai utara Cirebon meski samar-samar. Energiku pagi ini terasa bertambah dengan pemandangan indah yang disuguhkan oleh alam yang sempurna Ia ciptakan bagi kita makhluk-Nya. Subhanallah.

45 menit waktu yang cukup cepat bagi diriku mencapai puncak dari Pangasinan. Bisa jadi banyak pendaki dengan stamina yang prima hanya butuh waktu 15 bahkan 10 menit. 

Sujud syukurku telah diantarnya menuju puncak Ciremai 3078mdpl. Puncak tertinggi Jawa Barat. Semakin ke timur semakin lautan awan tertata dengan indahnya. Ciremai, dan Merapi.  Serasa sangat dekat sekali dengan awan saat itu. Mungkin karena bentuk gunung Ciremai yang strato (lancip) membuat awan mudah mendekat.
“ALLAHU AKBAR!”

Semakin terbuka pemandangan kea rah Timur dengan puncak gunung Slamet di Purbalingga, Sindoro, Sumbing di Wonosobo. Beberapa waduk terlihat dari sini. Subhanallah. 

Ada keinginan untuk memutari puncak Ciremai tetapi waktuku sangat terbatas. Esok hari aku sudah mulai bertugas di MTs.N1. Setidaknya membutuhkan 3jam bahkan lebih untuk memutari puncaknya yang puluhan hektar luasnya. Puncak gunung ini sangat mirip dengan puncak Gunung Gede di Sukabumi. bedanya  puncak gunung Gede hanya berupa setengah lingkaran tidak menyambung satu dengan lainnya.

Kurang dari 10 menit, puncak Ciremai segera tertutup kabut dan awan. Semakin gelap disini. Setelah mengambil cukup gambar kitapun segera turun ke Pangasinan. 

Sarapan, packing. Segera hujan mengguyur kita kembali. Alhamdulillah. Teringat betapa sulitnya mencapai titik demi titik, pos demi pos terlampaui dalam kondisi tubuh sangat letih dan hujan lebat. Sepertinya hanya semangatlah andalan kita. 

Sangga Buana2, SanggaBuana1, Bapak Tere,Batu Lingga, Seruni, Kuburan Kuda, Condang Amis, Leuweung Datar dan Cibunar semua terlampaui. Alhamdulillah, pukul 16.00 kita sampai Cibunar.

Kita berpisah di Cibunar. Aku masih harus mengambil barang-barangku yang kutitipkan di warung kang Rewok. Teman-teman dari Tangerang pamit pulang lebih dulu.

“terima kasih semuanya, kalo gak ada lo pade, gue gak bakal bisa sampai di puncak, calling-calling ya!, hati-hati!”

“OK, hati-hati juga bang!”

Subhanallah indahnya persahabatan yang terjalin di alam. Setahun kemudian kudengar dari Coky bahwa bang Ucok meninggaldunia karena Over Dosis. Innalillahi Wa Inna Ilaihi Roji’uun. Allah Yang Maha Pengampun semoga mengampuni dosa-dosa kita
(luthfi mulyadi, 29 April 2013)