Rabu, 19 Juni 2024

Kenapa Jerawat?

 

Kenapa Jerawat?

Jerawat tumbuh subur pada kulit wajahku umur 13tahun.Badanku tambah membengkak entah berbentuk apa.Kulitku semakin gelap bisa jadi karena sering dijemur di lapangan.

Ah,sebal.Siapa yang akan tertarik dan memuji jika kondisiku seperti ini?.Para personil Blackpink sungguh cantik sempurna.Kulit putih mulus,wajah cantik glowing,badan ramping,suara bagus.

Jutaan pria dan wanita terhipnotis oleh kecantikannya.Ah,tak usahlah aku seperti mereka.Kakak-kakak kelas9 sudah tampil sangat cantik menggoda bak aktris sinetron Ariel Tatum ataupun Amanda Manopo.

Skincare ternama.Membuat glowing wajah dan tampilan bibir sensual menggoda.Aku semakin kecil dan buruk rupa di tengah-tengah mereka.Temanku kelas8 juga sudah ada yang rutin menggunakan skincare.Mereka terlihat semakin cantik menggoda.

Syukurnya cowok-cowok banyak tenggelam dalam games online.Bagi mereka,biarlah mereka menghabiskan waktu bermain games online untuk mengalihkan hasrat pada wanita.Gamers sejati memang butuh bermain,tetapi tidak mempermainkan wanita.

"woi,ngapain lu bengong?"tiba-tiba kakak BPH OSIS itu menegurku

"gpp kak,hehehe",aku masih menyembunyikan lamunanku,malu.

"udeh,jujur aja keles,santuy sama gue",kakel meyakinkan

....

 

***

Menjemput Badai 3153mdpl

 

Menjemput Badai 3153mdpl

 

Cuaca gunung jelas sulit diprediksi

Mengharap keberuntungan

di atas sana cerah adalah manusiawi

Meski kita tahu 

awan Lenticular memayungi seminggu ini

Perjuangan ini layak dihargai

Alam terlalu kuat untuk dilawan bahkan ditakhlukkan

Manusia terlalu lemah penuh kesombongan

Agaknya bodoh jika logika kita gunakan

Nyawa kita pertaruhkan demi sebuah postingan

Pulang dengan selamat sampai di rumah

adalah pertolongan Tuhan

Ya, kita manusia yang sering melupakan

Saat mata tak dapat memandang

dengan jelas diterpa badai

Saat hidung menghirup asap belerang beracun sesakkan dada membuat tubuh lemah lunglai

Saat tak tahu kemana arah jalan pulang

nyaris tercerai berai

Saatnya sadar lawan ego teruntai

Berjuang pulang keluarga menanti  (luthfimulyadi,ruangguru,02/01/23)

***

 

 

 

 

POS3 SINDORO

 

POS3 SINDORO

Malam itu aku diombang-ambing angin seperti ranting kecil yang ringan. Dalam tenda monodome yang layernya tak lama lagi bertahan.Pasak-pasak tercabut dari tanah yang hancur tak mungkin lagi kutanamkan.Ya, baru saja 10 menit yang lalu kutanam menembus tanah gembur ketinggian 2300mdpl.

Bagian bawah tenda mulai terangkat seakan-akan aku berada di dalam balon air mainan yang biasa ada di wahana air. Tanah yang tak datar membuatku selalu terdesak ke bawah.

Berkali-kali sudah kuperbaiki posisi tidurku. Jelas ini bukan tidur yang nyaman. Angin bar-bar itu mendorongku berkali-kali tanpa bosannya. Angin kencang, hujan deras dalam gelap kabut pos3 gunung Sindoro via Alang-alang Sewu. Kondisi ini seakan nostalgia pendakian Merapi 2011.

Setua ini aku masih saja dipermainkan. Mengulangi kembali kesalahan. Sudah kukatakan akhir tahun bukan waktu ideal untuk pendakian.Hahaha,lucunya penyesalan.

Setua ini harusnya cukup nyaman menikmati camping di samping sungai menikmati kopi dan cokelat panas. Resiko dalam kegiatan camping pastinya tidak sebesar kegiatan mendaki gunung. Ah,celaka, masih ada anak muda yang harus kuantar menuju puncak. Entah berapa kali lagi.Tak tega aku menolak mereka. Aku khawatir minat mereka yang positif akan segera berubah. Bisa saja mereka akan melakukan hal yang lebih tidak bermanfaat seperti kebut-kebutan di jalan dengan motor mereka.

***

Sesampainya di pos3 Sindoro via Alang-alang Sewu keadaan sekitar sudah memutih full kabut. Angin kencang mulai berhembus. BL Putar otak untuk memutuskan spot terbaik untuk mendirikan tenda. Bukan di dekat patok pos3, bukan pula dalam hutan kecil karena khawatir tertimpa pohon yang roboh terkena angin.

Ya, kupilih dibibir hutan kecil di belakang pohon terakhir yang masih berdiri. Kupastikan dahan-dahannya cukup kuat menahan terpaan angin bar-bar nanti malam. Banyak dahan disekitarnya telah roboh. Cukup ngeri membayangkan jika kami sampai tertimpa dahan pohon selanjutnya yang patah terkena terpaan angin kencang.

Aku prioritaskan tenda hijau kapasitas 4 orang harus berdiri terlebih dahulu.Kasihan para pemula dihadapkan pada keadaan yang cukup membuat panik ini.Semakin sore semakin gelap. Semakin dingin.

Intruksi terus aku berikan tanpa bosan. Ini adalah waktu yang tepat untuk Melatih teamwork.Ya, dalam keadaan panik  anak-anak diuji tetap tenang. Wajarlah jika masih banyak kekurangan, tugasku kemudian menyempurnakannya.

Bagaimana menanam pasak, bagaimana mengamankan tas tenda, mengikat flysheet, merapihkan tenda agar tidur nyaman bahkan sampai menggelar matras.

Alhamdulillah tenda hijau berdiri. Selanjutnya tenda orange yang harus kulindungi dengan flysheet tambahan. Tenda orange bersebelahan dengan tenda hijau. Alhamdulillah pergerakan Pak Bisri dan Pak Lahmudin cukup cepat karena terbiasa dalam kegiatan outdoor. Konsentrasiku mendirikan tenda biru untukku sendiri sekarang.

Kuperhatikan lagi kondisi layernya yang semakin rapuh. Jelas monodome ini tidak safety maksimal untuk menahan angin. Khawatir kembali menghantui. Pak Bisri membantuku memindahkan terpal lusuh untuk menghalau angin  yang terus menghajar tenda kami.

Entah berapa bulan umur terpal itu di pos3 ini. Pendaki lain meninggalkannya begitu saja. Alhamdulillah kami bisa memanfaatkannya. Pasak-pasak itu tak kuat menancap di tanah.Kami menggantinya dengan batu-batu besar, tetap saja batu itu kalah dengan kekuatan angin. Luar biasa bar-barnya angin gunung Sindoro.

Terimakasih banyak Pak Bisri dan Pak Lahmudin yang segera membuatkan sop untuk kami. Makan malam dengan sop cukup membuat kami bertahan sampai tengah malam. Alhamdulillah.

***

Malam itu aku diombang-ambing angin seperti ranting kecil yang ringan seringan kapas. Dalam tenda monodome yang kainnya tak lama lagi bertahan.Pasak-pasak tercabut dari tanah yang hancur tak mungkin lagi kutanamkan.Ya, baru saja 10 menit yang lalu kutanamkan.

Bagian bawah tenda mulai terangkat seakan-akan aku berada di dalam balon air di dalamnya. Tanah yang tak datar membuatku selalu terdesak ke bawah. Berkali-kali sudah kuperbaiki posisi tidurku. Jelas ini bukan tidur yang nyaman. Angin bar-bar itu mendorongku berkali-kali tanpa bosannya.Nostalgia Merapi 2011.

Aku mulai merinding kedinginan meski sudah memakai jaket dan sleeping bag. Hujan sudah mengguyur kami sejak 2jam lalu dan terus hingga kini. Basah-basahan aku membenarkan pasak yang tercabut dari tanah dan mengikatnya kembali di pohon yang telah tumbang.

Amazing, nostalgia Merapi 2011. Kadang tak percaya aku kembali mengalami ini. Seakan tak habis-habis bertempur melawan ganasnya angin gunung Sindoro. Sampai akhirnya aku lelah dan pasrah. Kubiarkan angin itu menghempas tubuh yang lemah ini di dalam tenda sendiri.

Kulihat kemudian flysheet kecil monodome yang terlepas tepat di atasku. Percikan air dari atas tenda yang flysheetnya lepas terus mengguyur wajahku. Aku tidur terlentang melihat jelas atap tenda yang hanya berupa jaring.

Terpal besar itu sudah berkibar-kibar terlepas dari pancangnya. Aku harus keluar memasang kembali flysheet kecilku berukuran 30 x 30cm untuk menutup jaring atas tenda.

Luar biasa magernya saat itu. Siapapun sangat berat bergerak meski hanya untuk makan snack meski perut lapar. Yang paling nyaman adalah berbaring meski basah terkena air hujan.

Air hujan mulai masuk dalam tenda dari arah kepalaku. Air sudah tergenang di pojok bawah tenda. Aku mulai merasa sakit perut dan kebelet pipis.Aku tak kuat lagi. Aku harus keluar.Bismillahirrahmanirrahim.

Kucari spot pinggir hutan arah barat pinggir jurang. Segera kugali tanah dan…. Alhamdulillah lega. Hujan dan angin masih menerpaku di luar sini sendiri.Brrrrrrrrr. Mantab sekali dinginnya. Untung babi-babi hutan itu enggan keluar karena badai. Jika saja cuaca bagus tanpa badai, bisa jadi kami bersiap semalaman sibuk mengusir babi-babi itu.

Yup,keuntungan kita dapat badai saat camp adalah tenda kita aman dari gangguan babi,hahaha.Kadang sensasi ini yang bisa kita banggakan untuk nostalgia. Dasar gila,hahaha.

Pukul 01.00 angin terus berusaha menghempas tenda kami. Kreeeeek Brak. Dahan sebesar paha orang dewasa patah dan tumbang satu meter di belakang kepalaku. Alhamdulillah ia tumbang tidak mengenai kepalaku.

(luthfimulyadi,ruangguru,31/03/23,16.41)

Jalan Panjang Menuju Apuy

 

Jalan Panjang Menuju Apuy

Sampai juga harinya.Seperti biasa, bang Luthfi(BL) selalu resah.Ia khawatir tidak dapat melayani jama'ah dengan baik. Jujur saja, BL hanya seorang user,dia tak banyak paham tentang mesin mobil yang ia sering gunakan untuk pendakian gunung. Padahal jalan menuju basecamp pastilah didominasi tanjakan.

Tak habis pikir,jika saja Allah swt tidak memudahkan segala urusannya, pastilah BL akan sangat kerepotan. Trouble terakhir kali yang ia hadapi adalah mengalami ban kempes di basecamp gunung Guntur Garut Jawa Barat. Bahkan jauh sebelumnya pada tahun 2016 ia pernah kehilangan ban mobil lengkap dengan velgnya yang jatuh sekitar wilayah Pekalongan jalur Pantura.

Tentang ban kempes terbarunya dikarenakan  suhu udara di kaki gunung Guntur yang dingin membuat ban mobil kempes lebih cepat dari biasanya. Alhamdulillah BL bisa mencari solusinya. Ia harus mencari tukang tambal ban di tengah kota Garut tengah malam. Alhamdulillah,ia pun menemukannya.

                                       ***

Kembali kita pada Trip NBBL (Nanjak BarengBang Luthfi) Ciremai via jalur Apuy Majalengka.Ya,harinya tiba.Jama'ah menyambutnya gembira.Terbayang keindahan gunung Ciremai jauh disana.Ya,atap Jawa Barat.

Pukul 14.00wib,BL dan jama'ah berangkat.Tak jauh dari pintu toll tebet,antrean panjang kendaraan menuju timur terlihat tak berujung.

Astaghfirullahal'azhiim.Ini yang dikhawatirkan BL.Ya,Contra flow arus dari timur menuju Jakarta.H+7 lebaran,saat berita kemacetan dimana-mana diinformasikan televisi, BL dan jama'ah masih nekat untuk berangkat.Siap berangkat berarti siap dengan segala konsekwensinya.

Satu jam mengantre, posisi mobil BL masih berada sekitar Cawang. Arus kendaraan dialihkan ke tol Jagorawi sekarang.Para Jama'ah tertunduk lesu melihat kondisi seperti ini. Jarak Jakarta Majalengka tak kurang dari 200km.Jika lancar hanya butuh maksimal 4jam perjalanan.

Sudah 1,5jam kami tersendat di antrean panjang ini.BL sempat bertanya ke Jama'ah, mungkinkah kita alihkan destinasi ke gunung Salak Bogor?.Semua diam tak bergeming sedikitpun.BL memahaminya sebagai tanda tidak setuju dengan tawaran yang diberikannya.

BL harus memutuskan dengan cepat,sebelum semuanya makin kacau. Mengganti destinasi pun belum menjamin arus lalu lintas ke arah Sukabumi lancar.

Bismillahirrahmanirrahim,BL memutuskan untuk tetap keluar tol Jagorawi lalu masuk tol arah Jatiwarna sambil berharap ada keajaiban terjadi,sehingga tol ke arah Cikampek tetap dibuka.

Alhamdulillah kami mampu melampaui Jatiwarna dan kini mengantre masuk lajur tol Cikampek.Rasa was-was itu muncul lagi. Contra Flow pasti berdampak pada kemacetan di beberapa titik khususnya arus kendaraan yang mengarah ke timur. Bisa jadi,kami akan dialihkan kembali keluar tol. Jangan senang dulu dengan keadaan ini.

Benar saja,tak lebih dari setengah jam kami kembali di arahkan ke luar Cikarang.Yup,seperti yang kami prediksi. Arus kendaraan dari timur menuju barat menjadi prioritas. Seluruhnya ada 5 lajur menuju barat.

Antrean panjang tak berujung kembali terlihat. BL dan Jama’ah menarik nafas panjang dan mengelus dada. Mereka hanya bisa sabar menjalani keputusan yang mereka buat. Ya, menikmati perjalanan panjang menuju Apuy Majalengka yang bisa dipastikan melalui jalur pantura.

Pukul 16.30 mereka masih tertahan di sekitar Muara Gembong Bekasi.Yup,menelusuri jalan-jalan desa yang sebelumnya tidak pernah dilalui BL tetap menjadi poin plus. Roofrack yang berbunyi dari atas mobil kembali membuat resah BL.

Jalan yang rusak dan banyak polisi tidur mengancam ban mobil dan barang-barang yang diletakkan di atas roofrack.Maklumlah, BL baru mampu membeli yang bagus, namun roofrack ini telah cukup teruji setelah beberapa kali NBBL Cikuray,Guntur bahkan Lawu Jawa Timur.

Keresahan BL bukan saja pada kekuatan roofrack. Beredar aturan yang membingungkan bahwa roofrack telah dilarang oleh pihak kepolisian,wacana atau memang sudah diterapkan aturan tersebut BL belum sepenuhnya tahu.

Pukul 17.15 BL memutuskan berhenti untuk istirahat dan solat Asar.Kewajiban ini tidak boleh ditinggalkan. Allah swt lah yang memberi izin trip ini dan akan mengawalnya.Allahu Akbar.Alhamdulillah.

Salat Asar + makan siang yang tertunda. Agaknya tanggung jika kami meneruskan perjalanan, sekarang  pukul 17.50. Sebentar lagi maghrib tiba. Kami segera melanjutkan perjalanan selesai solat Maghrib berjama’ah. Ya Allah mudahkan. Perjalanan masih sangat jauh untuk seorang single driver.

Gelap sudah mulai menyergap. Parit parit pematang sawah membelah desa perbatasan Bekasi Karawang sudah mulai terlihat dibalik keremangan. Jalan-jalan yang cukup sempit jika dua mobil berpapasan. Cukup banyak lubang disini.Harus hati-hati. Bunyi roofrack kembali terdengar karena roda menerobos lubang.

Tiga kali kami melintasi jembatan sempit antar desa melewati atas jalan tol Cikampek. Ribuan mobil terlihat bergerak menuju Jakarta. Padat dan terang sekali terlihat dari atas sini.Ternyata beginilah rasanya mudik lebaran.

Melintasi dua desa yang diarahkan petugas,bertemulah kami dengan arus utama dari Bekasi via Kalimalang. Ribuan kendaraan bergerak bersama-sama kea rah timur.Bus AKAP, kendaraaan pribadi, motor,mobil truck container. Padat sekali. Ternyata kami masih harus mencari putaran balik sejauh 5KM sebelum bertemu jalan utama.Wow mantab.

Pukul 22.00 mata tak mampu lagi bertahan. Bang Luthfi putuskan istirahat di salah satu masjid di Subang.Solat Isya dan rebahan 1jam terasa cepat sekali.Jam sudah menunjukkan pukul 23.00. Waktunya melanjutkan perjalanan. Alhamdulillah lalu lintas relative lebih lancar.Ya, kami melintasi pantura yang cukup sepi setelah ada tol Cipali. Malam itu lintas pantura tersenyum gembira karena kembali ramai dilalui para pemudik dll.

Mata kembali mengantuk di daerah Cirebon pukul 01.00. Setengah jam Bang Luthfi (BL) harus pejamkan mata.Pukul01.30 lanjutkan perjalanan ke arah Majalengka. Plang itu sudah mulai terlihat.Alhamdulillah. Ya, plang yang menunjukkan arah Majalengka sesuai arahan googlemap.

Kami melewati jalan yang benar-benar sepi sekarang.Jalan mulai menanjak. Suhu udara berubah lebih sejuk dibanding dua jam sebelumnya.Ya, kami sudah cukup dekat dari basecamp.Terlihat berbeda sekarang. Kami memasuki sebuah desa. Harus memipir beberapa bukit sampai ke basecamp.

Lampu malam yang agak kekuningan sering menguntungkan saat bertemu kabut. Suasana makin mencekam melewati kebun bambu yang cukup panjang. Batang-batang panjangnya menjulur nyaris menutupi jalan. Cukup rendah.Ada kekhawatiran mengenai roofrack.Halusinasi tentang para penghuni kebun bambu  yang akan munculpun segera melintas dalam kepala di tengah gelap malam yang sepi.

Sampai pada beberapa tanjakan yang sangat curam dan tajam yang tak terlihat pembatas jalan dengan parit yang cukup dalam. Untuk kesekiankali Allah swt memudahkan kami melaluinya. Allahu Akbar.

Delapan peserta dewasa ditambah full bagasi dan roofrack membuat mesin mobil Avanza tahun 2011 berjuang untuk tetap terus merayap naik meski perlahan. Setelah beberapa meter melewati tanjakan ekstrem itu BL memutuskan berhenti sejenak untuk mengecek ikatan pada roofrack.

Benar saja, roofrack bergeser posisinya agak mundur karena tanjakan ekstrem tadi membuat beban bergeser turun.Alhamdulillah tak hentinya. Untung saja mobil tidak kehilangan keseimbangannya karena beban yang banyak.

BL melihat bayang hitam di kejauhan sana. Ya, itu punggungan gunung Ciremai yang gagah. Allahu Akbar. Bulan tanggal 10 Syawal cukup membuat pemandangan malam itu sangat indah ditaburi ribuan bintang di sekitarnya. Allahu Akbar.

 

BL dan jama’ah keluar untuk menikmati pemandangan sambil bermain dengan hembusan nafas yang sekarang bisa menjadi asap putih karena suhu cukup dingin.

Tak lama BL meneruskan perjalanan. Bismillahirrahmanirrahim. Track ditutup dengan menuruni bukit melewati tengah pematang sawah dan kembali menanjak curam. Takbir dan solawat kembali menggema melawan kekhawatiran dengan optimisme.

Pukul 03.00 Alhamdulillah BL dan jama’ah tiba di tempat parkiran Desa Agamukti Kecamatan Argapura jalur pendakian Apuy. Punya cerita Apuy adalah seorang tokoh pendakwah yang sangat hebat nan dermawan.

Selanjutnya, BL dan jama’ah harus meneruskan menuju Basecamp dengan menggunakan mobil bak karena jalur ke atas sangat ekstrem layaknya offroad Cikuray via Pemancar.Yang pasti pendakian yang sangat berat buat single driver berumur 41tahun yang belum juga pensiun, hehehe.

(luthfimulyadi,ruangguru,31Maret2023)

Selasa, 18 Juni 2024

Nyamannya Blegod

 

Nyamannya Blegod

 

Orang betawi biasa menyebut telanjang dada dengan Blegod.Dulu kala para budak mengerjakan pekerjaan dengan Blegod.Kata Blegod bisa jadi berasal dari kata Black Gold,adalah budak-budak berkulit hitam/pekerja paksa zaman Belanda yang yang bekerja di lapangan terbuka.Penampakan mereka mirip emas hitam-Black Gold di bawah guyuran panas terik matahari.

Blegod & Semangat Topless

Beberapa komunitas mengkampanyekan telanjang dada dalam kegiatan mereka di dalam atau di luar ruangan.

Blegod sangat nyaman demi memberikan kesejukan badan khususnya ketika berkegiatan di bawah terik matahari. terlepas dari budaya Timur yang menganggap itu kurang etis bahkan melanggar norma.Terlebih perempuan yang berani melakukan topless di luar negeri sana.

Dalam kegiatan outdoor ketika seorang merasa lebih nyaman,dekat bahkan menyatu dengan alam.Suatu kesadaran bahwa kitapun bagian dari alam.Kita manusia tercipta dari saripati tanah dan akan kembali dikuburkan di tanah.

Satuan Terpisah

Pramuka dalam kegiatannya idealnya melakukan kegiatan terpisah antara laki-laki dan perempuan.Ini dalam rangka menjaga privasinya.Tidak hanya perempuan,beberapa laki-lakipun merasa risih saat menikmati Blegod lalu anggota perempuan memasuki kawasan privasinya.

(BR,mck7cibubur,06/12/23,11.44)

Entah

 

Entah

 

Entah apa yang kuharap dan kucari.Mungkin aku berbohong pada diri sendiri. Aku masuk ruangan itu sering kali. Kau seakan tak peduli.Nampak serius sekali bekerja depan laptop memandang sepi.Aku bersama adik dan kawan-kawan menanti.

Aku memperhatikanmu dari titik ini.Bersama guru kesayangan di hati. Guru yang membuatku nyaman belajar di sini. Aku mencuri pandangmu berkali.

Pandangan kita bertemu sesekali.Aku tersipu malu,bergetar dada ini. Lemas badan dan kaki. Jujur aku dan beberapa kawanku berfantasi.

Gerakmu, suaramu,sikapmu dalam hayal menari-nari. Sungguh haram tuliskan ini. Melanggar etika pendidikan terkini.Aib besar menanti. Entah kau tahu atau pura-pura tak tahu rasa ini. Kau masih dingin dengan sikapmu sendiri.Menyapa tegas aku dan kawan-kawanku beberapa kali.

Berkali-kali tegaskan kau adalah guru kami.Kau tegaskan tentang etika antar kita kembali.Mungkinkah kau juga berfantasi.Yakinku mampu luluhkan hati.

 

Hah,terlalu ektrem berpegang pada referensi Aisyah RA yang mencinta Sang Nabi. Kita dan mereka terlalu kejam memvonis diri sendiri. Haram mencintamu yang telah beristri. Itu yang sudah lama kita yakini. Surat Annisa kontroversi monogami mendominasi. Celaka di luar sana ribuan  zina di sana sini.Dasar lancang dan nekatnya aku menentang tradisi.Maafkan aku berfantasi.

(BR,ruangASASb2,30/11/23,15.20)

***

Tenda Berdarah

 

Tenda Berdarah

 

Hari ini hari Jumat.Hari terakhir bagi BangRese' Junior (selanjutnya dibaca BRJR) untuk bersekolah.Tak sabar rasanya ingin berkumpul bersama teman-teman di tenda barunya.Maklumlah tahun 1989 tenda merupakan suatu barang yang cukup mewah.Setidaknya bagi BRJR dkk.

 

Tenda baru berukuran 1x2m berwarna merah dan biru.Bapak membelikannya untuk BRJR.Ia tahu anak laki-lakinya sudah lama mengidamkan tenda itu.Tenda Pramuka single layer tanpa alas yang berumur panjang hingga sempat digunakan BR camp di pos Pangasinan Gunung Ciremai 2800mdpl dan Surya Kencana 2750mdpl tahun 2001&2005.

Sebelum tenda itu terbeli,BRJR dkk sempat membuat gubug dari triplek berbentuk rumah layaknya kandang ayam.BRJR dkk bangga sekali dengan produk kinerja mereka.

***

Tiba waktunya berkemah. Sabtu sore,BR telah merencanakan mendirikan tenda di samping rumah,di samping kandang-kandang ayam peliharaannya.Batu krikil,beling pecahan kaca dan sampah berserakan di sekitarnya.Jelas camping ground yang jauh dari kata safety dan nyaman.

 

Aroma kotoran ayam selalu tercium setiap saat.Namun bagaimana lagi.BRJR dkk tidak punya pilihan lain.Saat itu camping ground Cibubur dan Ragunan pun belum sempat mereka nikmati.

***

Tikar dan kardus bekas adalah alas pilihan.Tenda kecil itu jadi rebutan 3teman BRJR lainnya.Tak heran kaki dan tangan mereka tidak tercover tenda karena saking berdesakan.

Pukul 01.00 wib keadaan sunyi.Setelah membuat tabunan(membakar sampah)sebagai ganti api unggun BRJR dkk istirahat.

Tiba-tiba terdengar langkah kaki perlahan mengendap-endap mendekati kandang ayam.Salah seorang teman  BRJR yakin,orang tersebut mempunyai rencana jahat.Mencuri ayam.

"Maliiiiiiiiing,maliiiiing",

spontan salah seorang teman BRJR berteriak,disusul teman lainnya.Mereka berhamburan keluar untuk pulang ke rumah masing-masing memberi laporan pada orangtuanya.

Para maling terdesak.Teriakan itu adalah ancaman.Mereka melempari BRJR dan teman-teman dengan batu.Sial BRJR terkena lemparan batu cukup besar.Lawan yang dihadapi BRJR dkk tidak sepadan.Para maling adalah orang-orang dewasa.

 

Darah segar mengalir  keluar dari dahi kanan BRJR.Tak lama darah segera menutupi wajah BRJR.Segera ia dilarikan ke klinik 24jam untuk mendapatkan jahitan di dahinya.Tenda Biru Merah berdarah menjadi saksi keteguhan BRJR dkk dalam melakukan kegiatan outdoor yang sebenarnya tidak aman dan nyaman.

 

Bersyukur setelah dewasa BR cukup puas menikmati puluhan spot indah di gunung-gunung Indonesia.Mengagumi indah ciptaan-Nya.Menyaksikan kebesaran-Nya.  Menambah syukur pada-Nya.

Alhamdulillah.BRJR tidak mengalami trauma setelah peristiwa Tenda Berdarah 1989.

(BR,ruangASASB2,30/11/23.14.18)

***